“Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhan—sebuah prinsip yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mencakup ekonomi yang cerdas. Melalui perpaduan AI bertenaga energi bersih dan pendidikan STEM, kita membangun kapasitas nasional agar Indonesia berdiri sendiri sebagai pencipta global, bukan sekadar konsumen,” ungkap Luhut.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, H.E. Meutya Hafid, mengatakan Indonesia memiliki modal awal melalui tingginya adopsi AI di kalangan generasi muda.
Namun, menurut Meutya, tingkat penggunaan AI perlu diikuti penguatan kapasitas nasional melalui penyelarasan kebijakan, riset, talenta, dan infrastruktur.
Ia juga menyambut kehadiran Garuda Spark Innovation Hub di UID Bali Campus sebagai Regional Hub dan Global Gateway Indonesia yang diharapkan dapat menghubungkan pelaku industri, investor, dan inovator global.
“Berlandaskan visi digital nasional kita, Terhubung, Tumbuh, Terjaga, inisiatif ini bertujuan memajukan 'AI yang Bermakna' (Meaningful AI)—memastikan AI tidak hanya mendorong produktivitas dan pelayanan publik, tetapi juga memberdayakan masyarakat serta memastikan masa depan AI dibangun dan berakar di Bali, dari Indonesia untuk dunia,” ujar Meutya.
Komentar