Beranda
Seputar Publik / Berita

PMI DKI Apresiasi BDRS Terbaik 2025, Beky Mardani: Pelayanan Darah untuk Selamatkan Nyawa

PMI Provinsi DKI Jakarta memberikan penghargaan kepada 10 Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) terbaik sebagai bentuk apresiasi sekaligus dorongan untuk memperkuat mutu, keamanan, dan ketersediaan darah bagi pasien.
Ketua PMI Provinsi DKI Jakarta H Beky Mardani menyampaikan pentingnya kolaborasi PMI dan rumah sakit dalam menjaga ketersediaan darah yang aman dan berkualitas bagi pasien, dalam acara penghargaan BDRS se-DKI Jakarta di Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026). Ketua PMI Provinsi DKI Jakarta H Beky Mardani menyampaikan pentingnya kolaborasi PMI dan rumah sakit dalam menjaga ketersediaan darah yang aman dan berkualitas bagi pasien, dalam acara penghargaan BDRS se-DKI Jakarta di Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026).

Seputarpublik.com || JAKARTA — Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi DKI Jakarta memberikan penghargaan kepada sejumlah Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) terbaik di Jakarta. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap rumah sakit yang dinilai berkomitmen menjaga ketersediaan serta kualitas pelayanan darah.

Acara penghargaan BDRS se-DKI Jakarta digelar di Gedung Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026).

Ketua PMI Provinsi DKI Jakarta, H Beky Mardani, mengatakan pelayanan darah merupakan rangkaian kemanusiaan yang melibatkan banyak pihak. Proses tersebut dimulai dari pendonor sukarela, dilanjutkan dengan pengolahan darah di Unit Donor Darah (UDD) PMI, hingga darah diberikan kepada pasien melalui pelayanan rumah sakit.

“Pelayanan darah sesungguhnya merupakan sebuah rantai kemanusiaan yang panjang. Dimulai dari kebaikan seorang pendonor, dilanjutkan dengan proses pengolahan dan penyediaan darah di UDD PMI, hingga akhirnya darah tersebut diberikan kepada pasien melalui pelayanan di rumah sakit,” kata Beky.


Menurut Beky, BDRS memiliki posisi penting dalam rangkaian pelayanan tersebut. BDRS menjadi salah satu garda terdepan di rumah sakit dalam memastikan kebutuhan darah pasien dapat terpenuhi secara tepat, aman, dan berkualitas.

Beky menegaskan, penghargaan tersebut bukan semata-mata untuk menentukan rumah sakit mana yang terbaik. Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus momentum untuk memperkuat dan meningkatkan kualitas pelayanan.

“Keberhasilan pelayanan darah bukanlah keberhasilan PMI sendiri dan bukan pula keberhasilan rumah sakit sendiri. Keberhasilan itu adalah keberhasilan kita bersama dalam memastikan pasien mendapatkan darah yang dibutuhkan pada saat yang tepat,” ujarnya.

Beky Dorong Tiga Hal dalam Pelayanan Darah


Beky menyebut terdapat tiga hal yang perlu terus diperkuat dalam pelayanan darah di Jakarta.

• Pertama, memperkuat kolaborasi antara PMI dan rumah sakit. Menurut Beky, ketersediaan darah membutuhkan komunikasi dan koordinasi yang kuat antara PMI dengan rumah sakit.

“Kita bangun pola kerja sama yang semakin responsif, terbuka dan saling mendukung sehingga kebutuhan darah bagi pasien dapat dilayani dengan sebaik-baiknya,” katanya.

• Kedua, meningkatkan mutu pelayanan BDRS. Beky berharap seluruh BDRS konsisten memberikan pelayanan darah yang aman dan berkualitas dengan mengutamakan keselamatan pasien.

Dia juga meminta penghargaan yang diterima rumah sakit tidak dijadikan sebagai tujuan akhir. Sebaliknya, penghargaan harus menjadi motivasi untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan standar pelayanan.

• Ketiga, memperkuat gerakan donor darah rutin di lingkungan rumah sakit.

Beky mengajak rumah sakit menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan melalui kegiatan donor darah secara rutin. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat membantu masyarakat sekaligus mendukung ketersediaan stok darah PMI.

“Untuk pelaksanaan kegiatan donor darah di rumah sakit, PMI Provinsi DKI Jakarta tentu akan memberikan perhatian dan memprioritaskan penjadwalan sesuai dengan kebutuhan dan koordinasi bersama,” tutur Beky.

Dinkes DKI Apresiasi Peran PMI dan BDRS

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr Ratna Sari, MKM, yang hadir mewakili Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, turut mengapresiasi peran PMI dan BDRS dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.

Ratna mengatakan fasilitas kesehatan di Jakarta tergolong lengkap. Menurutnya, saat ini terdapat hampir 100 rumah sakit, 44 RSUD, dan lebih dari 3.000 klinik.

“Fasilitas kesehatan di DKI Jakarta sudah sangat lengkap. Ada hampir 100 rumah sakit, 44 RSUD dan lebih dari 3.000 klinik,” kata Ratna.

Menurut Ratna, ketersediaan fasilitas kesehatan tersebut menjadi salah satu faktor pendukung pelayanan kesehatan masyarakat Jakarta. Hal itu juga turut berkontribusi terhadap angka harapan hidup warga Jakarta yang disebut mencapai sekitar 76 tahun.

Namun, peningkatan pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada rumah sakit dan fasilitas kesehatan. PMI juga memiliki peran penting dalam memastikan ketersediaan darah yang cukup dan aman bagi pasien.

“Peningkatan pelayanan kesehatan ini salah satunya juga berperan yakni PMI, berupa penyiapan dan ketersediaan darah yang cukup dan aman dan bebas dari penyakit menular,” ujarnya.

Ratna pun menyampaikan apresiasi kepada para penerima penghargaan dan mendorong seluruh BDRS untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.

“Selamat kepada BDRS dan terus tingkatkan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

RS MMC Raih Peringkat Pertama BDRS Terbaik 2025

Dalam daftar BDRS terbaik tahun 2025 yang disampaikan pada kegiatan tersebut, RS MMC (Metropolitan Medical Centre) menempati peringkat pertama.

Posisi kedua ditempati RSPON Prof Dr dr Mahar Mardjono Jakarta, sedangkan RS EMC Grha Kedoya berada di peringkat ketiga.

10 BDRS Terbaik Tahun 2025

1. RS MMC (Metropolitan Medical Centre)

2. RSPON Prof Dr dr Mahar Mardjono Jakarta

3. RS EMC Grha Kedoya

4. RSUD Cengkareng

5. RS Medistra

6. RS Pusat Pertamina

7. RS MRCCC Siloam Hospitals Semanggi

8. RS Pluit

9. RS St Carolus

10. RS Pondok Indah

Beky mengatakan penghargaan tersebut harus menjadi pemacu bagi rumah sakit untuk terus memperbaiki dan meningkatkan pelayanan darah.

Dia juga mengingatkan bahwa di balik setiap kantong darah terdapat rangkaian kebaikan, mulai dari pendonor yang memberikan darah secara sukarela, petugas PMI yang memproses darah, hingga petugas BDRS yang memastikan darah tersedia dan diberikan kepada pasien sesuai kebutuhan.

“Pada akhirnya ada seorang pasien yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kehidupannya,” ujar Beky.

Karena itu, Beky meminta rumah sakit dan BDRS yang belum menerima penghargaan agar tidak berkecil hati. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan ajang persaingan, melainkan momentum untuk melihat aspek pelayanan yang masih perlu diperbaiki.

“Tujuan akhir kita bukanlah mendapatkan penghargaan, melainkan memberikan pelayanan darah yang semakin baik dan memastikan keselamatan pasien,” tegasnya.

Beky berharap PMI dan rumah sakit terus memperkuat sinergi untuk menjaga ketersediaan darah bagi masyarakat Jakarta.

“Karena pada akhirnya, PMI dan rumah sakit berada pada satu tujuan yang sama: menyelamatkan kehidupan,” pungkasnya. (*/hel)