Seputarpublik.com || JAKARTA, – PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV PalmCo) memperkuat strategi operasional dan finansial untuk mengoptimalkan pencapaian target perusahaan menjelang penutupan tahun buku 2026.
Memasuki kuartal IV, perusahaan memprioritaskan peningkatan volume ekspor langsung atau direct export Crude Palm Oil (CPO), efisiensi biaya produksi, serta transformasi menuju pengelolaan perkebunan berbasis teknologi dan presisi.
Strategi tersebut dibahas dalam Rapat Pimpinan (Rapim) Kuartal IV yang melibatkan Dewan Komisaris, Direksi, kepala divisi, hingga jajaran manajemen regional.
Melalui rapat tersebut, perusahaan menyelaraskan langkah operasional untuk menjaga produktivitas, memperkuat daya saing, serta mempertahankan profitabilitas di tengah dinamika industri kelapa sawit.
Perluas Ekspor CPO dan Perkuat Efisiensi Biaya
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan bahwa optimalisasi kinerja pada periode akhir tahun difokuskan pada pengawalan produksi secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Upaya tersebut juga diiringi penerapan efisiensi secara terstruktur guna menjaga daya saing biaya produksi dan profitabilitas perusahaan.
“Tahun ini kita melakukan inisiatif untuk memperluas pasar melalui direct export. Namun, kuncinya tetap berada pada pengawalan produksi di lapangan, memastikan kepastian pasokan, serta menjaga mutu yang ketat mulai dari proses di pabrik hingga manajemen logistik. Di sisi lain, kita terus menekan cash cost melalui inisiatif Go Lean dan Go Secure agar margin perusahaan tetap terjaga secara fundamental,” ujar Jatmiko.
Menurutnya, keberhasilan ekspansi pasar melalui ekspor langsung harus didukung kepastian pasokan, konsistensi kualitas produk, serta pengelolaan logistik yang optimal.
Selain itu, pengendalian biaya melalui program Go Lean dan Go Secure menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga fundamental bisnis dan margin usaha.
Optimalisasi Aset dan Pengembangan Green Business
Selain memperkuat operasional inti, PTPN IV PalmCo juga memberikan perhatian terhadap pengelolaan aset perusahaan dan pengembangan inisiatif green business.
Jatmiko menggarisbawahi pentingnya memastikan seluruh aset perusahaan berada dalam penguasaan fisik yang jelas serta memiliki kelengkapan legalitas. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari mitigasi risiko operasional dan penguatan tata kelola perusahaan.
Secara paralel, perusahaan terus mengoptimalkan potensi ekonomi dari pengolahan limbah kelapa sawit.
Sejumlah langkah yang dilakukan antara lain pemanfaatan fasilitas methane capture serta optimalisasi penjualan cangkang sawit untuk meningkatkan nilai tambah dari kegiatan operasional perkebunan.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan perkebunan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Smart Plantation Jadi Kunci Daya Saing Perusahaan
Sementara itu, Komisaris Utama PTPN IV PalmCo, Desrial, menekankan bahwa daya saing perusahaan perkebunan ke depan tidak lagi hanya ditentukan oleh luas lahan yang dikelola.
Menurutnya, produktivitas setiap hektare dan ketepatan alokasi biaya menjadi faktor penting dalam mengukur keunggulan operasional perusahaan.
Karena itu, industri perkebunan dituntut untuk mempercepat penerapan konsep Smart Plantation melalui integrasi mekanisasi kegiatan lapangan dan digitalisasi sistem manajemen perusahaan.
"Transformasi ini adalah keharusan. Eksekusi operasional yang didukung oleh mekanisasi akan menjamin standarisasi proses dan efisiensi waktu, sementara digitalisasi memastikan setiap pelaporan dan pengambilan keputusan manajerial terkalibrasi secara objektif, cepat, dan berbasis data mutakhir. Keduanya harus berjalan beriringan agar corrective action di lapangan dapat dilakukan seketika," tegas Desrial.
Penerapan mekanisasi dan digitalisasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketepatan pelaksanaan pekerjaan, mempercepat proses pengawasan, serta mendukung pengambilan keputusan berdasarkan data aktual.
Dengan demikian, langkah korektif terhadap kendala operasional di lapangan dapat dilakukan secara lebih cepat dan terukur.
Perkuat GCG dan Pengawasan Internal
Dalam kesempatan yang sama, Dewan Komisaris juga menyoroti pentingnya penerapan Good Corporate Governance (GCG) secara konsisten di seluruh tingkatan manajemen.
Kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Instruksi Kerja (IKA) harus menjadi pedoman dalam setiap pelaksanaan kegiatan perusahaan.
Pengawasan internal juga perlu dilakukan secara berjenjang, dimulai dari lapisan pelaksana operasional pertama. Langkah tersebut bertujuan memastikan seluruh aktivitas perusahaan berjalan sesuai ketentuan serta meminimalkan potensi penyimpangan administratif maupun operasional.
Penguatan tata kelola dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis, meningkatkan akuntabilitas, dan memastikan pencapaian target perusahaan berlangsung sesuai prinsip kepatuhan.
Melalui sinkronisasi strategi peningkatan produksi, perluasan pasar global, efisiensi biaya, transformasi digital, serta pengawasan internal yang ketat, PTPN IV PalmCo optimistis dapat mempertahankan tren kinerja positif yang telah terbentuk hingga kuartal III.
Berbagai langkah tersebut diharapkan mampu mendorong akselerasi kinerja perusahaan dan menghasilkan pencapaian optimal pada penutupan tahun buku 2026.(Redaksi.)*