Seputarpublik.com || BANDUNG, — PTPN IV PalmCo, subholding dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group), terus memperkuat integrasi rantai pasok industri kelapa sawit nasional melalui pengembangan ekosistem kemitraan dengan petani sawit rakyat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Gathering Petani Mitra 2026 yang diselenggarakan PTPN IV Regional III di Bandung, Jawa Barat, pada 15–18 Oktober 2026. Mengusung tema *“Break the Limit, Make the Leap”*, kegiatan ini mempertemukan manajemen perusahaan dengan perwakilan petani kelapa sawit rakyat, termasuk petani plasma.
Inisiatif tersebut sejalan dengan arah pengembangan bisnis PTPN IV PalmCo di bawah kepemimpinan Direktur Utama Jatmiko K. Santosa. Perusahaan tidak hanya berfokus pada pengembangan bisnis inti, tetapi juga memperkuat peran dalam program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Melalui pendampingan lahan masyarakat dan penyerapan Tandan Buah Segar (TBS) dari petani mitra, perusahaan berupaya mendukung peningkatan produktivitas kebun, memperkuat rantai pasok, serta mendorong keberlanjutan usaha petani.
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menilai kolaborasi dengan petani sawit rakyat merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi perusahaan di tengah persaingan industri kelapa sawit nasional.
“Di peta sawit nasional, luasan PTPN berada di kisaran 5 persen. Kita tidak akan bisa bersaing dengan 53 persen pihak swasta jika berdiri sendiri. Kekuatan baru akan tercipta jika kita menggandeng dan mengintegrasikan 42 persen kekuatan petani sawit rakyat,” jelas Arya dalam sambutannya.
Sebagai bentuk evaluasi kinerja sekaligus apresiasi terhadap kemitraan yang telah berjalan, Arya menyampaikan bahwa PTPN IV meluncurkan program PSR Award pada 2026.
Program tersebut dirancang sebagai tolok ukur akuntabilitas perusahaan kepada para mitra sekaligus mendorong percepatan pelaksanaan program peremajaan kebun sawit rakyat.
“Harapannya, pasca PSR Award, terjadi akselerasi program peremajaan yang lebih masif ke depannya,” imbuhnya.
Dari sisi operasional, Pelaksana Tugas (Plt.) Region Head PTPN IV Regional III, Sori P. Ritonga, memaparkan proyeksi kinerja perusahaan pada 2026, mulai dari produktivitas kebun, penyerapan TBS dari petani mitra, hingga estimasi laba.
“Tahun ini kami memproyeksikan pencapaian produktivitas di angka 24,5 ton per hektare. Dari sisi kemitraan, pembelian TBS dari program PSR ditargetkan mencapai 1 juta ton, melampaui rata-rata tahun sebelumnya yang berada di kisaran 900 ribu ton. Hal ini diharapkan bermuara pada capaian estimasi laba sebesar Rp3,1 triliun,” urai Sori di hadapan para petani mitra.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, total lahan kemitraan PTPN IV Regional III tercatat lebih dari 15.000 hektare dengan keterlibatan sekitar 7.500 petani.
Komposisi lahan yang dipaparkan meliputi 8.700 hektare Tanaman Menghasilkan (TM) dan 2.300 hektare Tanaman Belum Menghasilkan (TBM). Angka tersebut perlu dibaca sesuai kategori lahan yang disebutkan dalam paparan perusahaan.
Sori juga mencontohkan KUD Tunas Muda sebagai salah satu mitra yang mencatat produktivitas 21,3 ton per hektare pada fase TM 2. Menurut keterangan yang disampaikan, capaian itu berada 43 persen di atas standar Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
Dalam perkembangan program peremajaan kebun mitra, PTPN IV Regional III melaporkan telah memperoleh Rekomendasi Teknis (Rekomtek) untuk lahan seluas 3.100 hektare. Luasan tersebut setara sekitar 70 persen dari target 4.500 hektare yang ditetapkan untuk 2026.
Manajemen juga menargetkan pengelolaan lahan plasma hingga 22.000 hektare secara bertahap pada periode 2027–2028.
Upaya penguatan kemitraan tersebut turut didukung penerapan sistem manajemen tunggal (*single management*) dan pendampingan kelembagaan. Menurut Sori, langkah ini dilakukan untuk menjaga kelancaran pasokan sekaligus mendukung keberlangsungan usaha petani mitra.
Perusahaan juga menyatakan menerapkan kebijakan pembelian TBS yang dirancang untuk menjaga daya saing harga di tingkat petani, meskipun harga minyak sawit mentah atau *Crude Palm Oil* (CPO) di pasar global mengalami fluktuasi.
“Kami berupaya menjaga harga beli di tingkat petani tetap stabil dan bersaing. Kepercayaan pasar ini terlihat dari volume antrean pasokan yang masuk ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) kami secara harian,” kata Sori.
Pernyataan mengenai kestabilan harga tersebut merupakan penjelasan dari pihak perusahaan. Harga yang diterima petani dapat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk ketentuan penetapan harga dan kondisi pasar.
PTPN IV PalmCo juga merencanakan peningkatan kontribusi pasokan bahan baku yang berasal dari kemitraan petani. Sori menyebut porsi pasokan dari kemitraan yang pada 2019 berada di angka 9 persen kini telah mencapai 34 persen.
Perusahaan memproyeksikan kontribusi tersebut meningkat menjadi 45 persen dalam jangka menengah. Sementara itu, target jangka panjang yang tercantum dalam Rencana Jangka Panjang (RJP) korporasi adalah mencapai 85 persen pada 2030.
Penguatan kemitraan ini diharapkan dapat memperbesar peran petani sawit rakyat dalam rantai pasok perusahaan, mendukung program peremajaan kebun, dan memperkuat keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.
Melalui Gathering Petani Mitra 2026, PTPN IV PalmCo menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kemitraan yang lebih inklusif. Namun, pencapaian target produktivitas, serapan TBS, kontribusi pasokan, dan pengelolaan lahan akan bergantung pada pelaksanaan program serta perkembangan kondisi operasional dan pasar.(Redaksi.)