Dalam kegiatan tersebut, Amar Salahuddin mempraktikkan metode membaca nyaring bersama anak-anak. Melalui pendekatan yang interaktif dan penuh ekspresi, peserta diajak mendengarkan cerita, berimajinasi, serta berinteraksi aktif selama proses membaca berlangsung.
Menurut Amar, membaca nyaring merupakan salah satu metode efektif untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini karena mampu membangun kedekatan emosional, melatih konsentrasi, memperkaya kosakata, dan menumbuhkan kecintaan terhadap buku.
> “Perpustakaan hadir demi martabat bangsa. Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi bagaimana menumbuhkan harapan, imajinasi, karakter, dan masa depan generasi muda,” ujar Amar Salahuddin.
Ia juga mengapresiasi konsistensi Taman Baca Rimba dalam menghadirkan ruang belajar yang inklusif bagi anak-anak di wilayah perbatasan.
Sementara itu, Founder Taman Baca Rimba, Novela Rahman, menegaskan bahwa kehadiran taman baca merupakan bagian dari upaya menghadirkan akses literasi yang dekat dan menyenangkan bagi masyarakat.
> “Nyalakan cahaya dari pelosok negeri bukan sekadar jargon bagi kami, tetapi semangat untuk terus bergerak menghadirkan akses literasi yang menyenangkan dan dekat dengan anak-anak,” ungkap Novela.
Sepanjang kegiatan, anak-anak tidak hanya diajak membaca buku, tetapi juga berdiskusi, bermain edukatif, dan belajar mengekspresikan diri dengan suasana yang menyenangkan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari berbagai ruang sederhana, termasuk di daerah pelosok. Melalui kolaborasi berbagai pihak, budaya membaca diharapkan terus berkembang dan menjadi fondasi penting dalam membangun generasi masa depan yang cerdas, kreatif, berkarakter, dan berdaya saing.(Goezt')
Komentar