Seputarpublik.com, ACEH TIMUR – Tiga bulan pascabanjir yang melanda Kabupaten Aceh Timur, ratusan warga Dusun Bahagia, Desa Pante Labu, Kecamatan Pante Bidari, hingga kini masih bertahan di tenda darurat. Menjelang H-18 Idulfitri, sebanyak 204 unit hunian sementara (huntara) dilaporkan belum rampung dibangun.
Kondisi tersebut memaksa para penyintas tetap tinggal di pengungsian, meski bulan Ramadan berlangsung dalam cuaca panas dan berdebu yang menguji ketahanan fisik maupun mental warga Aceh Timur.
Ketua Aliansi Pers Rehab Rekon Pascabanjir Aceh Timur, Masri, menyatakan keterlambatan pembangunan huntara berpotensi membuat masyarakat bertahan di tenda hingga hari raya.
“Jika pembangunan huntara tidak segera diselesaikan, kami memperkirakan masyarakat masih berada di pengungsian sampai Idulfitri mendatang,” ujar Masri.
Ia menegaskan warga berharap dapat menempati hunian sementara sebelum Idulfitri. Namun hingga memasuki hari ke-12 Ramadan, para pengungsi masih menjalani ibadah puasa dalam kondisi serba terbatas.
“Jangan sampai pemerintah hanya menjadi pemberi harapan. Masyarakat ingin Ramadan ini dijalani di tempat tinggal yang lebih layak,” tegasnya.
Keterbatasan Pangan dan Ancaman Kesehatan
Saidah, salah seorang warga terdampak, mengaku telah tinggal di tenda pengungsian sejak banjir 26 November 2025 menerjang desanya. Selama lebih dari tiga bulan, ia bersama dua keluarga—termasuk anak dan cucunya—menempati satu tenda darurat.
“Selama pascabanjir, kami hidup seadanya. Beras memang ada, tetapi lauk-pauk seperti ikan dan sayur sulit didapat. Untuk berbuka puasa, kami hanya minum sirup merah,” ujarnya kepada tim Aliansi Pers, Selasa (03/03/2026).
Ia juga mengeluhkan kondisi kesehatan anaknya yang kerap mengalami demam akibat suhu panas di dalam tenda.
“Anak saya sering demam. Di dalam tenda sangat panas, sehingga sulit beristirahat dengan nyaman,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Maulina yang masih berteduh di tenda bersama tujuh anggota keluarganya. Ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menghadapi persoalan kesehatan akibat kondisi pengungsian yang tidak memadai.
Pemerintah Diminta Percepat Pembangunan Huntara
Warga berharap Aceh Timur dan pemerintah terkait segera mempercepat pembangunan hunian sementara agar mereka dapat merayakan Idulfitri di tempat yang lebih layak dan manusiawi.
Keterlambatan pembangunan huntara turut dibenarkan oleh Muchlis, Keuchik Gampong Pante Labu. Ia menyebut kondisi warganya saat ini sangat memprihatinkan karena belum satu pun unit huntara yang dapat ditempati.
“Benar, belum satu pun huntara yang bisa dihuni karena lambatnya pengerjaan oleh rekanan. Padahal warga berharap memasuki bulan puasa sudah bisa berlindung di tempat yang lebih layak,” ujarnya.
Situasi ini menambah daftar panjang pekerjaan rumah dalam penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir di Aceh Timur. Warga kini berharap percepatan pembangunan hunian sementara benar-benar menjadi prioritas agar mereka tidak lagi merayakan hari besar keagamaan dalam kondisi serba darurat. (red)*