Dorri menegaskan bahwa arsitektur merupakan produk kebudayaan yang merefleksikan identitas suatu wilayah. Karena itu, unsur arsitektur Betawi dinilai perlu diintegrasikan secara lebih sistematis dalam perencanaan dan desain kota, terutama ketika Jakarta memasuki babak baru sebagai kota global pasca perpindahan ibu kota negara.
Menurutnya, penerapan ragam hias Betawi di kota besar memerlukan pendekatan proporsional agar tetap selaras dengan skala bangunan modern. Ornamen tradisional harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan makna filosofisnya.
Ia menawarkan dua pendekatan utama. Pertama, pendekatan literal, yakni menghadirkan bentuk asli ornamen arsitektur Betawi dengan penyesuaian skala terhadap dimensi bangunan modern. Kedua, pendekatan simbolik, berupa interpretasi artistik ragam hias Betawi yang tetap mempertahankan nilai filosofisnya.
> “Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan arsitek memadukan unsur tradisional dan modern secara harmonis, sehingga keduanya saling melengkapi tanpa saling mendominasi,” ujarnya.
Dorri juga menilai sejumlah infrastruktur publik perlu menjadi prioritas dalam penerapan identitas arsitektur Betawi, khususnya bangunan milik pemerintah daerah, seperti kantor pemerintahan, fasilitas sosial dan umum, terminal, stasiun, halte, pasar, puskesmas, rumah sakit, RPTRA, jembatan penyeberangan orang (JPO), underpass, hingga gapura batas wilayah.
Selain itu, sektor hospitalitas dan pariwisata termasuk hotel, penginapan, restoran, dan destinasi rekreasi, didorong untuk mengadopsi ragam hias Betawi sebagai bagian dari strategi penguatan karakter kota.
Melalui langkah tersebut, Jakarta diharapkan tidak hanya tampil sebagai kota metropolitan modern, tetapi juga memiliki identitas yang kuat, berakar pada sejarah dan budaya lokal sebagai warisan masyarakat Betawi. {hel}*
Komentar