Beranda
Seputar Publik / Opini

Tuksa: Ruang Putih, Kehampaan Manusia, dan Perjalanan Menuju Batas Kewarasan

Karya: Lionel Jaden Huang, Kelas XI IPS — sebuah refleksi filosofis tentang kebebasan, absurditas kehidupan, pemberontakan, dan manusia yang berhadapan dengan kehampaan dirinya sendiri.
“Ketika ruang putih kehilangan warna, manusia dipaksa berhadapan dengan satu hal yang paling sulit dilawan: kehampaan di dalam dirinya sendiri.” “Ketika ruang putih kehilangan warna, manusia dipaksa berhadapan dengan satu hal yang paling sulit dilawan: kehampaan di dalam dirinya sendiri.”

Aku ingin mati...

Sudah berapa lama waktuku kuhabiskan di tempat terkutuk ini?

Rasanya seperti satu abad.

Ironisnya, baru kusadari bahwa waktu yang kuhabiskan di tempat hampa ini bahkan belum genap satu hari.

Di sini, segalanya diwajibkan berwarna putih.

Lampu neon yang menyilaukan. Ruangan tanpa sudut. Lantai yang kosong. Dan yang paling mengerikan, suasana yang begitu mencekam.

Bagi sebagian orang, putih mungkin melambangkan surga.

Bagiku, ini adalah neraka yang dibangun di bumi.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, kupikir aku hanya sedang memasuki sebuah penjara yang ganjil—sebuah ruangan yang dipenuhi warna putih.

Setidaknya, itulah pikiranku saat itu.

Namun, ketika berdiri di depan pintu sel, aku tiba-tiba ditarik secara paksa. Setiap helai rambutku dibaluri cat putih. Pakaian tahanan putih dikenakan kepadaku. Bahkan identitasku seolah dirampas dan digantikan dengan sebuah nama baru:

F000.

Aku didorong masuk ke ruangan itu dengan kasar oleh sipir hingga tubuhku terjungkal.

Katanya,

“Jangan lupa untuk berpikir mengapa bajingan seperti kau ada di sini, F000.”

Aku terdiam.

Bukan karena takut.

Namun, pada detik itu, aku justru sadar bahwa aku sedang menertawakan kebodohanku sendiri.

Cklek.

Pintu terkunci rapat.

Untuk pertama kalinya, aku merasakan kehampaan sebesar ini.

Kesunyian seolah hadir untuk menelan ruangan tersebut bulat-bulat.

Aku berusaha bertahan, meski semuanya terasa sia-sia.

Sudah berapa lama aku berada di sini?

Pertanyaan itu terus muncul setiap kali aku berdiam diri.

Belum tiga jam berada di tempat terkutuk ini, tetapi sudah begitu banyak suara berdengung di kepalaku yang kosong.

Mataku tertuju pada sebotol air mineral yang tergeletak di lantai putih.

Bening.

Jernih.

Namun semakin lama kupandang, semakin aku merasa benda itu menyerupai hidupku.

Terkemas rapi.

Tampak berguna.

Terlihat bersih.

Namun di dalamnya tidak ada apa-apa selain kehampaan yang sewaktu-waktu dapat membuatku tersedak.

Entah mengapa, berbagai pikiran gelap mulai merayap di kepalaku.

Aku tidak lagi peduli apakah suatu hari nanti aku akan keluar dari ruangan ini dalam keadaan masih bernapas atau tidak.

Yang kuinginkan hanya ketenangan.

Bahkan jika untuk mendapatkannya aku harus hancur sepenuhnya di dalam kehampaan ini.

Apakah dunia benar-benar seabsurd itu?

Pertanyaan tersebut berdengung di kepalaku yang terasa hampir pecah.

Apakah seluruh kehidupan di luar sana—segala perjuangan, keringat, ambisi, dan perlombaan tanpa akhir—hanyalah lelucon besar yang diciptakan semesta untuk mencemooh manusia?

Kita memburu.

Kita bertahan hidup.

Kita berlomba mencari arti bagi sepersekian detik keberadaan kita, sementara bumi terus berputar tanpa peduli siapa diri kita.

Dunia ini benar-benar absurd.

Dan aku, dengan sisa kewarasan yang masih kumiliki, baru menyadari bahwa aku telah menghancurkan hidupku demi melawan sesuatu yang bahkan tidak memiliki bentuk.

Cukup!

Teriakan itu menggema di dalam kepalaku.

Begitu keras hingga rasanya aku sendiri menjadi tuli.

Aku sudah tidak tahan lagi.

Aku membutuhkan bukti bahwa aku masih hidup.

Bahkan jika bukti itu harus dibayar dengan rasa sakit.

Tubuhku bergerak sebelum akal sehat sempat mencegahnya.

Aku menghantamkan kepala ke dinding.

BUGH!

Suara benturan menggema ke seluruh ruangan.

Lukaku terasa panas. Pandanganku berkunang-kunang.

Namun aku tidak peduli.

Aku kembali menghantam dinding itu.

Sekali lagi.

Dan sekali lagi.

Aku berharap dinding tersebut hancur.

Atau setidaknya, suara di kepalaku ikut menghilang bersamanya.

Namun dinding itu tetap berdiri.

Tidak retak.

Tidak berubah.

Tetap putih.

Tetap mulus.

Tetap tidak peduli.

Saat itu aku merasa dipermainkan.

Semakin terasa sakit luka yang kuterima, semakin jelas kusadari betapa sia-sianya semua yang kulakukan selama ini.

Seberapa keras pun aku berusaha mengubahnya, semuanya tetap tidak berubah.

Aku berteriak.

Tubuhku terhuyung.

Napas tersengal.

Kemudian aku jatuh.

Kupikir aku akan tidur cukup lama.

Ternyata tidak.

Sesuatu yang bernama takdir seolah tertawa di belakangku.

Belum sempat kesadaranku pulih sepenuhnya, sebuah suara dingin membangunkanku.

Suara itu terdengar begitu akrab.

Terlalu akrab.

Seolah-olah suara itu berasal dari diriku sendiri.

“Bangun, F000. Kamu terlalu cepat untuk tidur bagi orang yang sia-sia ini.”

Aku tercengang.

Siapa yang mengira ada orang lain di tempat semacam ini?

Dengan sisa kesadaranku, kubuka mata.

Dua sosok berdiri di hadapanku.

Padahal aku tahu ruangan ini terkunci.

Sosok pertama tampak seperti pria paruh baya.

Kantong matanya gelap.

Tangannya penuh kapalan.

Suaranya berat dan lelah.

Aroma alkohol dan asap rokok melekat pada tubuhnya.

Ia menyerupai seorang pekerja kantoran yang telah terlalu lama berhadapan dengan kehidupan.

Sementara sosok kedua tampak sebaliknya.

Rambutnya acak-acakan.

Pakaiannya longgar.

Dan ia terus tersenyum seolah dunia tidak pernah memiliki masalah.

Dengan santai ia berkata,

“Kau pikir dinding akan merasa kasihan hanya karena kau merusak kepalamu?”

Ia terkekeh.

“Dinding ini bahkan tidak peduli, Lukyan. Dan yang paling lucu, kau mulai lupa kapan terakhir kali kau memanggil namamu sendiri.”

Sialan.

Mengapa ia menyebut nama itu?

Nama yang sudah lama terkubur dalam dokumen kantor.

“Tidak,” jawabku pelan.

Suaraku serak.

“Kalian salah. Hidupku sama sekali tidak sia-sia. Apa yang kulakukan adalah pilihanku. Aku memilih untuk memberontak.”

Pria paruh baya itu mendengus.

“Melawan?”

Suaranya berat.

“Melawan apa, anak muda? Meja kerja? Atau bos gendut yang bahkan tidak tahu bahwa kau ada?”

“Aku melawan demi kebebasan.”

“Cih.”

Ia mengisap rokoknya.

“Merasa menjadi pahlawan kesiangan? Tidak, Lukyan. Kau hanya anak kecil yang mengamuk setelah mainannya dirampas. Kau menghancurkan masa depanmu sendiri demi prinsip kosong yang tidak memiliki makna.”

“Diam!”

Suaraku terdengar kecil di ruangan itu.

“Kalian tidak mengerti apa-apa. Setidaknya saat aku mengangkat patung itu, kurasakan sedikit hawa kebebasan.”

Sosok berambut acak-acakan itu tertawa.

“Hawa kebebasan?”

Ia menatapku.

“Jika dilihat lagi, kau sekarang hanya duduk di dalam kotak ini, menunggu giliran dilupakan dunia. Apakah itu kebebasan yang kau impikan?”

Aku ingin menyangkalnya.

Aku ingin mengeluarkan argumen panjang tentang filsafat, kebebasan, dan pilihan manusia.

Namun semakin kucari kata-kata itu, semakin besar pula celah yang kutemukan dalam keyakinanku sendiri.

“Setidaknya,” kataku akhirnya, “aku tidak mati dengan diam.”

Aku menatap mereka.

“Aku memilih akhir ceritaku sendiri.”

Aku tersenyum.

Kupikir aku menang.

Namun pria paruh baya itu tidak terkesan.

Ia hanya mengisap rokoknya.

“Memilih?”

Ia berjalan mendekat.

“Kau tidak pernah memilih, Lukyan.”

Ia berhenti.

“Kau hanya menyerahkan pilihanmu kembali kepada kotak ini.”

Aku terdiam.

“Bos gendut itu? Minggu depan perusahaan akan mencari orang baru. Namamu akan hilang dari daftar karyawan terbaik.”

Ia menatapku.

“Sedangkan kau? Kau mengunci dirimu sendiri di tempat ini.”

Seketika kata-katanya menghantamku lebih keras daripada benturan kepalaku dengan dinding.

Si rambut acak-acakan kembali berkata,

“Dan tentang memilih akhir cerita... kau benar-benar polos, kawan.”

Ia tersenyum.

“Di luar sana, mungkin tidak ada yang akan peduli apakah kau mati di kantor itu atau di tempat lain. Kau tidak sedang memberontak.”

Ia terkekeh.

“Kau hanya mengamuk karena sejak awal kau sudah kalah dalam permainan.”

Bibirku bergetar.

Kemudian sebuah tawa keluar dari tenggorokanku.

Pelan.

Tertahan.

Lalu semakin keras.

“Ha... ha... ha...”

Sampai akhirnya—

“HAHAHAHA!”

Tawa itu memenuhi ruangan putih.

Aku tertawa semakin keras.

Semakin liar.

“Kenapa kau tertawa?” geram pria paruh baya itu.

“Aku tertawa karena kalian benar!”

Aku menatap mereka.

“Aku kalah! Aku hanyalah pion bodoh yang mengamuk karena kekalahannya sendiri!”

Aku menarik napas.

“Kalian tahu apa bagian yang paling lucu?”

Aku menatap mereka.

“Setidaknya ketika aku melakukan semua itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa hidup.”

Tawaku perlahan mereda.

“Kalian bisa merampas kebebasanku. Tapi kalian tidak akan pernah mengubah fakta bahwa akulah yang menghancurkannya.”

Kedua sosok itu terdiam.

Untuk sesaat, mereka tidak lagi tampak seperti dua orang asing.

Mereka terlihat seperti bagian gelap dari diriku sendiri.

“Oya... aku baru ingat.”

Suaraku mengecil.

“Jika hari itu aku memilih menunduk, menelan semua penghinaan, dan membiarkan diriku menjadi kosong di meja kantor itu, mungkin aku tidak akan pernah sampai di neraka putih ini.”

Ingatan itu datang kembali.

Hari ketika semuanya bermula.

Langit di luar kantor mendung.

AC ruangan kembali rusak.

Udara terasa pengap, bercampur bau keringat, uang, dan keputusasaan yang bersembunyi di balik kemeja-kemeja formal.

Di ujung ruangan, di balik sebuah meja, duduklah dia.

Kabanov.

Bosku.

Pria yang selama bertahun-tahun menjadi simbol dari segala hal yang kubenci.

Aku membawa map hitam berisi laporan audit.

Setiap langkah terasa berat.

Namun aku tetap berjalan.

Karena dalam dunia absurd ini, seorang budak seolah tidak mempunyai pilihan selain berjalan menuju majikannya sendiri.

“Lukyan,” katanya tanpa mengangkat kepala dari layar komputer.

“Ya, Pak?”

Aku berusaha membuat suara tetap tenang.

Kabanov akhirnya menatapku.

Ia melempar map hitam itu ke lantai.

Kertas-kertas berhamburan.

“Ini sampah, Lukyan!”

Suara bentakannya memenuhi ruangan.

Beberapa rekan menundukkan kepala.

Pura-pura tidak melihat.

Pura-pura tidak mendengar.

Pura-pura tidak peduli.

“Angka-angka ini tidak ada gunanya! Perusahaan ini tidak membutuhkan orang yang bekerja setengah mati tetapi tidak menghasilkan apa-apa!”

Kata-kata itu bukan lagi teguran.

Bagiku, itu terdengar seperti vonis.

Saat itu seluruh perjalanan hidupku seperti berputar cepat di kepala.

Sekolah pagi-pagi.

Kuliah sambil menahan lapar.

Berdesakan di kereta.

Menatap layar sebelas jam sehari.

Pulang ke apartemen sempit.

Tidur.

Lalu mengulang semuanya keesokan hari.

Sebuah siklus.

Siklus yang seolah tidak pernah memiliki akhir.

Dan untuk pertama kalinya aku bertanya:

Apakah ini benar-benar hidup?

Apakah inilah yang disebut keberadaan manusia?

“Lukyan, kenapa kau diam?”

Kabanov kembali membentak.

Tahan.

Itulah suara yang terus terdengar di kepalaku.

Namun sesuatu dalam diriku memilih jalan lain.

Dadaku terasa panas.

Ketakutan, kepatuhan, dan kebutaan yang selama ini menahanku seolah runtuh dalam satu waktu.

Mataku tertuju pada meja Kabanov.

Di antara dokumen dan benda-benda di atasnya, terdapat sebuah patung beruang.

Tanganku bergerak.

Aku mencengkeram patung itu.

“Kau mau apa, Lukyan?”

Kabanov menatapku.

Aku tidak menjawab.

Aku sudah muak.

Dengan seluruh tenaga yang tersisa, kuangkat patung itu.

Untuk sesaat, pria yang selama ini membuatku takut justru terlihat ketakutan.

“Lukyan...”

Suaranya berubah.

“Kumohon.”

Aku tidak mendengar apa pun lagi.

Aku hanya melihat seseorang yang selama ini menjadi simbol dari hidup yang ingin kutinggalkan.

Patung itu kuayunkan.

BUGH!

Suara benturan menggema di seluruh ruangan.

Kabanov jatuh.

Orang-orang berteriak.

Seseorang memanggil bantuan.

Dan dalam kekacauan itu, untuk sesaat, aku merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah kumiliki:

kebebasan.

Namun kebebasan itu ternyata memiliki harga.

Tak lama kemudian para penyidik datang.

Mereka mengepungku.

Dan itulah ingatan terakhir yang kubawa sebelum ruangan putih ini menelan kesadaranku.

Dua sosok itu masih berdiri di hadapanku.

Namun kali ini mereka tidak mengejek.

Mereka hanya tersenyum tipis.

“Sudah puas bernostalgia, Tuan Pembunuh?” bisik sosok berambut acak-acakan.

“Baliklah ke kenyataan.”

Tubuh kedua sosok itu perlahan menghilang bersama kepulan asap.

Sebelum benar-benar lenyap, suara pria paruh baya itu kembali terdengar.

“Nikmati sisa kewarasanmu, Lukyan.”

Ia berhenti.

“Hitung mundur tiga puluh hari... sebelum ruangan ini mencuci kewarasanmu.”

Hari-hari berikutnya—atau mungkin hanya ilusi tentang hari—berjalan tanpa bentuk.

Di tempat terkutuk itu, matahari seolah dilarang masuk.

Lampu neon terus menyala.

Waktu kehilangan wujudnya.

Untuk mengetahui berapa lama aku telah berada di sana, aku menggunakan satu hal:

kuku.

Setiap kali kehampaan datang dan membuat pikiranku terasa hampir runtuh, aku mencakar sebuah garis di dinding.

Satu garis.

Kemudian satu lagi.

Seiring waktu, hitungan itu semakin kacau.

Kadang-kadang kukuku terluka karena aku mencakar dinding terlalu cepat.

Aku bahkan tidak lagi tahu apakah satu garis berarti satu hari atau hanya satu ilusi yang diciptakan pikiranku sendiri.

Kemudian datang rutinitas lain.

Jatah makanan.

Sebuah lubang kecil di bawah pintu dibuka.

Nampan logam didorong masuk.

Di atasnya hanya terdapat bubur abu-abu yang mengepul tipis.

Apakah benda itu layak disebut makanan?

Setiap suap tidak memiliki rasa.

Bukan sekadar hambar.

Lebih seperti kehampaan yang memiliki bentuk.

Awalnya aku mencoba memberontak.

Nampan itu kubiarkan utuh di lantai.

Biarkan aku mati kelaparan.

Begitulah pikirku.

Setidaknya mereka tidak berkuasa atas diriku.

N... Bersambung ..