Seputarpublik.com || GARUT – Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menilai Kabupaten Lebak memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan pariwisata yang berpotensi menjadi identitas kuat daerah. Namun, menurut Amir, Lebak hingga kini masih membutuhkan branding atau identitas daerah yang lebih kuat agar dikenal secara luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Hal tersebut disampaikan Amir Hamzah saat menghadiri Milad ke-7 Pokja Wartawan Lebak di Garut, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).
Menurut Amir, keberadaan masyarakat adat Baduy serta sejarah Multatuli merupakan dua kekuatan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari identitas Kabupaten Lebak. Kekhasan tersebut, kata dia, dapat menjadi modal untuk memperkuat sektor pariwisata, membuka peluang investasi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Lebak itu unik, tetapi kita belum punya branding. Menurut ahli branding, identitas daerah harus mengakar, memiliki sejarah yang kuat, DNA yang kuat, dan jiwa yang kuat,” ujar Amir dalam sambutannya.
Baduy dan Multatuli Dinilai Jadi Identitas Lebak
Amir mengatakan Kabupaten Lebak memiliki keunggulan komparatif yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik daerah. Dua di antaranya adalah masyarakat adat Baduy yang masih mempertahankan tradisi leluhur serta sejarah Multatuli yang memiliki keterkaitan dengan Lebak dan dikenal melalui karya sastra Max Havelaar.
Menurutnya, kedua unsur tersebut dapat menjadi bagian penting dalam membangun citra Kabupaten Lebak. Kekayaan budaya dan sejarah itu, kata Amir, perlu dikemas melalui strategi promosi yang tepat agar dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Baduy hanya ada satu di dunia. Termasuk Multatuli, yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Lebak. Ini yang tidak dimiliki kabupaten lain di Banten,” ungkapnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Amir dalam kesempatan sebelumnya bahwa kekayaan budaya dan sejarah Lebak, termasuk Baduy, Multatuli, dan Kasepuhan, dapat menjadi bagian dari penguatan city branding maupun region branding daerah.
Infrastruktur Wisata Perlu Jadi Prioritas
Selain branding daerah, Amir menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur sebagai penunjang pengembangan destinasi wisata di Kabupaten Lebak.
Menurutnya, luas wilayah Kabupaten Lebak serta keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pemerintah perlu menentukan skala prioritas pembangunan dengan memusatkan perhatian pada sejumlah kawasan yang dinilai memiliki potensi besar.
Ia menilai pembangunan tidak harus dilakukan secara serentak di seluruh wilayah. Sejumlah destinasi dengan potensi unggulan dapat diprioritaskan agar pembangunan infrastruktur lebih terarah.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah peningkatan akses menuju kawasan wisata di wilayah selatan Lebak, termasuk jalur yang menghubungkan sejumlah destinasi dengan jalan nasional.
Peningkatan kualitas infrastruktur tersebut diharapkan dapat mempermudah mobilitas wisatawan sekaligus membuka peluang pertumbuhan usaha masyarakat di sekitar kawasan wisata.
Amir juga mendorong kolaborasi antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat dalam pembangunan infrastruktur. Dengan pola tersebut, pembiayaan pembangunan tidak sepenuhnya bertumpu pada APBD Kabupaten Lebak.
“Kita sebenarnya kalau mau fokus membangun, harus bisa memilih. Jangan semuanya karena anggarannya terbatas. Kita pilih beberapa destinasi, jangan semuanya, karena semuanya itu tidak ada uangnya,” tegasnya.
Infrastruktur Diharapkan Buka Peluang Investasi
Amir berharap pengembangan akses menuju destinasi wisata yang dilakukan secara terencana dapat mendorong tumbuhnya investasi dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, peningkatan konektivitas kawasan wisata dapat membuka peluang pengembangan berbagai fasilitas pendukung, seperti penginapan, vila, maupun usaha lainnya yang berkaitan dengan pariwisata.
Dengan demikian, pembangunan infrastruktur diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat yang berada di sekitar destinasi.
Dalam kesempatan tersebut, Amir mencontohkan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai salah satu daerah yang menurutnya berhasil mengembangkan identitas melalui sektor budaya dan pariwisata.
Ia menilai keberhasilan membangun branding daerah tidak semata-mata bergantung pada keindahan alam. Karakter lokal, sejarah, dan kebudayaan juga dapat dikembangkan menjadi daya tarik yang memiliki nilai ekonomi.
Karena itu, Amir mendorong Kabupaten Lebak mengembangkan strategi yang sesuai dengan karakter daerah, dengan memanfaatkan kekhasan budaya Baduy, sejarah Multatuli, serta potensi wisata alam di wilayah utara dan selatan Lebak.
Media Digital Jadi Peluang Promosi Lebak
Amir juga melihat perkembangan media digital sebagai peluang untuk memperluas promosi pariwisata Kabupaten Lebak.
Platform berbagi video dan media sosial seperti TikTok, menurutnya, dapat menjadi sarana promosi ketika wisatawan maupun kreator dari luar daerah membuat konten mengenai budaya dan destinasi wisata Lebak.
“Kalau orang luar membuat vlog, TikTok, atau video tentang daerah kita, berarti ada pasarnya. Ini menjadi peluang untuk mengembangkan pariwisata,” tuturnya.
Menurut Amir, ketertarikan masyarakat dari luar daerah terhadap budaya dan destinasi wisata Lebak perlu dimanfaatkan secara optimal melalui strategi promosi digital yang terarah.
Amir Tekankan Peran Pers dalam Pembangunan
Di hadapan para wartawan, Amir juga menekankan pentingnya peran pers dalam pembangunan dan kehidupan demokrasi.
Ia menyebut pers sebagai salah satu komponen penting bersama birokrasi, partai politik, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha dalam mendorong kemajuan bangsa.
Menurutnya, pers memiliki fungsi strategis dalam menyampaikan informasi, mengawal kebijakan publik, serta memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
Karena itu, Amir berharap insan pers terus menjaga profesionalisme, menyajikan pemberitaan yang berimbang, serta ikut memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas.
Ketua DPRD Lebak Apresiasi Milad Pokja Wartawan
Sementara itu, Ketua DPRD Lebak dr. Juwita Wulandari menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Milad ke-7 Pokja Wartawan Lebak.
Juwita menilai kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan membangun kebersamaan di antara para insan pers.
Ia mengatakan suasana kekeluargaan dalam kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada para wartawan untuk sejenak beristirahat dari rutinitas peliputan sekaligus memperkuat solidaritas.
Juwita juga menyinggung berbagai risiko yang dapat dihadapi wartawan ketika menjalankan tugas jurnalistik. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan perlu tetap menjadi perhatian karena setiap orang memiliki keterbatasan.
“Ketika kita diberikan umur yang panjang oleh Allah, maka manfaatkan semaksimal mungkin untuk kebaikan,” ujar Juwita.
Ia berharap Pokja Wartawan Lebak terus berkembang menjadi organisasi yang mampu menjaga solidaritas, meningkatkan kualitas jurnalistik, serta konsisten menghadirkan informasi yang akurat dan berimbang kepada masyarakat.
“Selamat ulang tahun untuk Pokja Wartawan Lebak yang ke-7. Semoga selalu menjadi garda terdepan dalam penyajian berita yang luar biasa dan berimbang,” katanya.
Peringatan Milad ke-7 Pokja Wartawan Lebak di Garut tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pemerintah daerah, legislatif, dan insan pers.
Selain mempererat silaturahmi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang pembahasan mengenai potensi daerah, pengembangan pariwisata, serta peran media dalam mendukung pembangunan Kabupaten Lebak.
*Penulis: AN