Ada segmen masyarakat yang sejak awal menjadi ruang strategis pendidikan terbuka dan jarak jauh, yakni non-traditional students. Mereka antara lain pekerja yang tidak dapat meninggalkan pekerjaan untuk mengikuti kuliah reguler, guru yang harus tetap berada di sekolah, ibu rumah tangga yang ingin melanjutkan pendidikan, aparatur yang bertugas jauh dari pusat kota, pekerja migran, hingga masyarakat di wilayah yang menghadapi keterbatasan geografis, waktu, dan ekonomi.
Bagi sebagian kelompok tersebut, pertanyaannya bukan semata-mata “kuliah di UT atau PTS?”, melainkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
Kuliah atau tidak kuliah sama sekali?
Di sinilah letak diferensiasi UT.
Jika perguruan tinggi konvensional pada umumnya berhadapan dengan calon mahasiswa yang memiliki kemampuan untuk hadir secara fisik di kampus, UT berupaya memperluas akses kepada mereka yang tidak dapat mengikuti pola pendidikan konvensional.
Maka, ukuran keberhasilan UT tidak seharusnya hanya dilihat dari berapa banyak mahasiswa yang berhasil direkrut. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak orang yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan kuliah kemudian memperoleh kesempatan untuk belajar.
Komentar