Transformasi digital, kecerdasan buatan, learning analytics, open educational resources, dan teknologi pembelajaran adaptif memberikan peluang besar bagi UT untuk memperkuat perannya.
Transformasi tersebut memungkinkan layanan pendidikan, sumber belajar, dan akses pengetahuan semakin luas.
Namun, teknologi tidak boleh membuat pendidikan semakin eksklusif.
Sebaliknya, teknologi harus digunakan untuk menjangkau mereka yang paling sulit dijangkau.
Semakin besar UT, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga mutu akademik, layanan mahasiswa, integritas akademik, inklusi digital, dan akuntabilitas.
Pertumbuhan kuantitas harus berjalan beriringan dengan kualitas.
Di titik inilah kritik mengenai “kapal keruk” justru dapat menjadi cermin.
UT tidak perlu alergi terhadap kritik. Kritik dapat menjadi pengingat bahwa ekspansi tidak boleh berhenti pada pertumbuhan angka. Pertumbuhan harus menghasilkan dampak sosial yang nyata.
Namun, masyarakat juga perlu melihat UT secara proporsional.
Komentar