Namun mari kita jujur. Menyatukan PWI yang terbelah bukan perkara mudah. Luka yang menganga setahun ini tidak akan sembuh hanya dengan jabatan tangan atau foto bersama. Munir akan membutuhkan energi, kesabaran, bahkan kecerdikan politik untuk merangkul semua faksi. Tugas pertama memang itu: memastikan rumah besar ini benar-benar satu atap.
Tugas keduanya, tak kalah berat: memperkuat eksistensi PWI di tengah disrupsi media. Kawan semua tahu, dunia pers berada di persimpangan jalan. Model bisnis lama runtuh, iklan tersedot Google dan Meta, sementara masyarakat lebih banyak membaca berita di gawai daripada koran ataupun televisi dan radio. Kalau PWI hanya sibuk dengan urusan internal, jangan salahkan anggota makin merasa tidak dilayani.
Komentar