> “BM Diah adalah simbol pers yang berangkat dari perjuangan dan tidak pernah tercerabut dari kepentingan bangsa,” tegas Tundra.
Rosihan Anwar: Kritis, Produktif, dan Independen
Sementara itu, Rosihan Anwar (Sumatera Barat, 10 Mei 1922 – Jakarta, 14 April 2011) dikenal sebagai wartawan, penulis, dan penyair produktif. Ia memimpin harian Pedoman, surat kabar berpengaruh yang dikenal kritis dan independen di tengah tekanan politik.
Rosihan meninggalkan ribuan artikel, buku esai, karya sastra, serta refleksi politik. Ia juga aktif memperkuat organisasi pers, termasuk PWI, serta mendorong profesionalisme wartawan melalui diskusi dan pelatihan.
Dari Perbedaan Menuju Rekonsiliasi
Sejarah mencatat, BM Diah dan Rosihan Anwar pernah berada di dua kutub pandangan berbeda. Perbedaan sikap politik mereka sempat memicu ketegangan yang ikut membelah PWI pada Kongres Palembang 1970.
Namun, pelajaran terpenting justru lahir dari fase berikutnya: kedewasaan dan rekonsiliasi. Keduanya memilih dialog, menempatkan kepentingan pers dan bangsa di atas perbedaan ideologis. PWI kembali dipersatukan pada 1973.
> “Perbedaan pandangan adalah keniscayaan. Tetapi persatuan, dialog, dan etika kebangsaan adalah fondasi keberlanjutan pers,” ujar Tundra.
Kini, keduanya dimakamkan dalam satu kompleks di TMPN Kalibata — simbol perjalanan pers Indonesia yang tumbuh melalui perbedaan, diuji konflik, dan dimatangkan oleh rekonsiliasi. [red]*
Komentar