Seputar Publik / Berita

AMKI Ziarah ke Makam BM Diah dan Rosihan Anwar, Meneguhkan Ingatan Pers Pejuang Bangsa

Peringati HPN ke-40, refleksi sejarah jurnalisme: dari perbedaan, konflik, hingga rekonsiliasi demi bangsa
Jajaran pengurus AMKI melakukan ziarah dan tabur bunga di makam BM Diah dan Rosihan Anwardi TMP Kalibata dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional ke-40. Jajaran pengurus AMKI melakukan ziarah dan tabur bunga di makam BM Diah dan Rosihan Anwardi TMP Kalibata dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional ke-40.

> “BM Diah adalah simbol pers yang berangkat dari perjuangan dan tidak pernah tercerabut dari kepentingan bangsa,” tegas Tundra.

Rosihan Anwar: Kritis, Produktif, dan Independen

Sementara itu, Rosihan Anwar (Sumatera Barat, 10 Mei 1922 – Jakarta, 14 April 2011) dikenal sebagai wartawan, penulis, dan penyair produktif. Ia memimpin harian Pedoman, surat kabar berpengaruh yang dikenal kritis dan independen di tengah tekanan politik.

Rosihan meninggalkan ribuan artikel, buku esai, karya sastra, serta refleksi politik. Ia juga aktif memperkuat organisasi pers, termasuk PWI, serta mendorong profesionalisme wartawan melalui diskusi dan pelatihan.

Dari Perbedaan Menuju Rekonsiliasi

Sejarah mencatat, BM Diah dan Rosihan Anwar pernah berada di dua kutub pandangan berbeda. Perbedaan sikap politik mereka sempat memicu ketegangan yang ikut membelah PWI pada Kongres Palembang 1970.

Namun, pelajaran terpenting justru lahir dari fase berikutnya: kedewasaan dan rekonsiliasi. Keduanya memilih dialog, menempatkan kepentingan pers dan bangsa di atas perbedaan ideologis. PWI kembali dipersatukan pada 1973.

> “Perbedaan pandangan adalah keniscayaan. Tetapi persatuan, dialog, dan etika kebangsaan adalah fondasi keberlanjutan pers,” ujar Tundra.

Kini, keduanya dimakamkan dalam satu kompleks di TMPN Kalibata — simbol perjalanan pers Indonesia yang tumbuh melalui perbedaan, diuji konflik, dan dimatangkan oleh rekonsiliasi. [red]*

Tulis Komentar

Komentar