Bagi AMKI, ziarah ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi atas perjalanan panjang pers Indonesia yang tumbuh dari semangat kemerdekaan dan terus diuji dinamika zaman.
Tundra Meliala menegaskan, BM Diah dan Rosihan Anwar adalah representasi jurnalis yang menyatukan idealisme pers dengan kesadaran kebangsaan.
> “Jurnalisme Indonesia tidak hanya dibangun oleh berita dan tajuk rencana, tetapi oleh keberanian sikap serta kesediaan memikul risiko sejarah,” ujar Tundra.

BM Diah: Pers, Proklamasi, dan Tanggung Jawab Bangsa
BM Diah, kelahiran Kutaraja (Aceh), 7 April 1917, dikenal sebagai jurnalis, diplomat, dan pengusaha pers. Namanya tercatat dalam sejarah nasional karena perannya menyelamatkan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Ia mendirikan harian Merdeka pada 1 Oktober 1945 dan memimpinnya hingga akhir hayat. Melalui media tersebut, BM Diah menegaskan pentingnya kemerdekaan pers, profesionalisme, dan tanggung jawab informasi kepada publik. Ia juga pernah menjabat Menteri Penerangan pada periode 1966–1968.
Komentar