Seputarpublik.com || JAKARTA, – Kesempatan memperoleh pendidikan tidak mengenal batas usia. Hal tersebut tercermin dalam program sekolah paket yang diselenggarakan Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta, yang memberikan ruang bagi masyarakat putus sekolah untuk kembali belajar dan menyelesaikan pendidikan melalui jalur kesetaraan.
Program tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, M. Subki. Menurutnya, pendidikan kesetaraan menjadi salah satu solusi bagi masyarakat yang belum berkesempatan menyelesaikan pendidikan formal, mulai dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).
Subki menilai persoalan warga yang putus sekolah perlu mendapatkan perhatian serius. Setiap warga negara, menurutnya, harus memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memperoleh ijazah sesuai jenjang yang ditempuh.
"Ini adalah bagian yang tidak boleh diabaikan. Bahwa ada anak-anak kita yang belum selesai sekolahnya, itu banyak," ujar Subki, Kamis (5/11/2026).
Secara khusus, Subki mengapresiasi pelaksanaan program sekolah paket yang dijalankan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat di kawasan Tamansari.
Dalam pelaksanaannya, program tersebut memanfaatkan ruang kelas di sekolah negeri setelah kegiatan belajar mengajar reguler selesai. Dengan pola tersebut, fasilitas pendidikan yang tersedia dapat dimanfaatkan kembali untuk memberikan akses belajar kepada masyarakat.
Menariknya, peserta program sekolah paket tersebut tidak hanya berasal dari kalangan anak-anak dan remaja. Terdapat pula warga berusia sekitar 60 tahun yang masih memiliki semangat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Subki mengaku bangga melihat antusiasme warga lanjut usia yang tetap berupaya memperoleh pendidikan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa semangat belajar tidak dibatasi oleh faktor usia.
"Jadi anak-anak itu sekolah paket di sekolah negeri. Ketika anak-anaknya sudah pulang, masuklah mereka yang sekolah paket. Bahkan waktu itu ada yang umurnya sudah 60 tahun. Masih ikut sekolah paket. Jadi saya sangat mengapresiasi program itu," ungkapnya.
Ia berharap program pendidikan kesetaraan tersebut dapat terus dikembangkan dan diperluas jangkauannya. Dengan demikian, semakin banyak warga Jakarta yang mengalami putus sekolah dapat kembali memperoleh akses pendidikan.
Komisi E Soroti Pentingnya Pendidikan Karakter Anak
Selain mengapresiasi program sekolah paket, Subki juga menyoroti pentingnya penguatan pendidikan karakter bagi anak-anak.
Menurutnya, pembentukan karakter tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada lembaga pendidikan. Peran orang tua dan lingkungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam membangun kepribadian, sikap, serta perilaku anak.
Ia menyampaikan bahwa keterlibatan orang tua dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan telah diatur melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Subki meminta Dinas Pendidikan DKI Jakarta segera mengkaji bentuk implementasi ketentuan tersebut agar pelibatan orang tua dalam proses pendidikan anak dapat berjalan lebih luas dan optimal.
Menurutnya, sinergi antara sekolah dan keluarga diperlukan untuk membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademis, tetapi juga karakter, sikap, dan perilaku yang baik.
"Sebab semakin hari semakin nyata kebutuhan kita akan karakter-karakter yang lebih baik," tandasnya.
Melalui penguatan akses pendidikan kesetaraan dan pendidikan karakter, diharapkan penyelenggaraan pendidikan di DKI Jakarta dapat semakin inklusif sekaligus mampu membentuk generasi yang berpengetahuan dan berkarakter.
*(Penulis; Helmi)