Tak hanya fokus pada pemenuhan gizi personel Satgas, pengelolaan dapur umum juga diarahkan untuk mendukung ekonomi masyarakat terdampak. Bahan pangan diperoleh dari wilayah sekitar Aceh Tamiang, Langsa, Kuala Simpang, Pangkalan Brandan, hingga Medan, meliputi beras, minyak, bumbu, ikan, lauk-pauk, sayuran, dan buah.
>“Sesuai arahan pimpinan, kami berupaya berinteraksi langsung dengan masyarakat dengan mengambil bahan makanan dari warga sekitar. Tujuannya untuk membantu menghidupkan ekonomi masyarakat di daerah terdampak bencana,” jelasnya.
Purnomo mengakui, pengelolaan dapur umum di lapangan memiliki tantangan tersendiri dibandingkan dapur permanen. Keterbatasan sarana, kebutuhan gas, fluktuasi harga bahan pokok, hingga ketersediaan bahan di pasar menjadi kendala yang harus diantisipasi dengan penyesuaian menu.
>“Ketika kol, kentang, dan wortel sulit diperoleh, kami beralih menggunakan sayuran lokal seperti sayur paku atau pakis yang khas daerah ini. Alhamdulillah, improvisasi tersebut bisa diterima oleh lidah seluruh personel Satgas,” ungkapnya.
Saat ini, Dapur Umum IPDN didukung oleh 18 kru yang bekerja secara bergantian hampir tanpa jeda untuk melayani kebutuhan makan pagi, siang, dan malam. Persiapan makan pagi bahkan sudah dimulai sejak pukul 22.00 WIB hingga dini hari.
>“Ada tim yang berangkat ke pasar sejak subuh untuk mencari bahan baku. Sekitar pukul 07.30 hingga 08.00 WIB sudah tiba di dapur umum dan langsung melakukan pembersihan, peracikan, hingga pengolahan,” pungkas Purnomo. [Red]
(Puspen Kemendagri)
Komentar