Seputar Publik / Berita

Dominasi Pasar Domestik, CPO PTPN IV PalmCo Perkuat Sertifikasi RSPO dan ISPO Menuju 100 Persen Keberlanjutan

Meski 99 persen produksi CPO diserap dalam negeri, PTPN IV PalmCo tetap meningkatkan kepatuhan standar global dan nasional, memperkuat traceability rantai pasok, serta menargetkan sertifikasi penuh RSPO dan ISPO pada 2030
PTPN IV PalmCo memperkuat komitmen keberlanjutan dengan meningkatkan sertifikasi RSPO dan ISPO mendekati 100 persen, meski 99 persen produksi CPO diserap pasar domestik dan tetap memperkuat keterlacakan rantai pasok dari kebun hingga pabrik. PTPN IV PalmCo memperkuat komitmen keberlanjutan dengan meningkatkan sertifikasi RSPO dan ISPO mendekati 100 persen, meski 99 persen produksi CPO diserap pasar domestik dan tetap memperkuat keterlacakan rantai pasok dari kebun hingga pabrik.

Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo menjelaskan bahwa integrasi data kebun dan pabrik menjadi kunci transparansi rantai pasok. Sistem yang diterapkan saat ini mampu melacak sumber TBS secara akurat sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan, terlepas dari tujuan pasar produk.

Langkah ini sekaligus menjawab tuntutan pasar global terhadap jaminan operasional bebas deforestasi, meskipun secara komersial sebagian besar CPO perusahaan beredar di dalam negeri.

Manajemen juga menetapkan target strategis, yakni seluruh kebun dan pabrik harus tersertifikasi penuh RSPO dan ISPO pada 2030. Roadmap serta tenggat waktu telah disusun guna menutup celah sertifikasi pada unit yang tersisa.

Di tengah dinamika industri sawit nasional yang kerap mendapat sorotan terkait isu lingkungan, strategi PTPN IV PalmCo menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara mandat penyediaan pasokan domestik dan pemenuhan standar keberlanjutan nasional maupun global.

Bagi perusahaan, sertifikasi bukan sekadar prasyarat ekspor, melainkan fondasi tata kelola serta penegasan bahwa produk yang beredar di pasar domestik diproduksi dengan standar ketat setara rantai pasok internasional. Dengan capaian yang telah mendekati 100 persen, tantangan berikutnya adalah memastikan konsistensi implementasi praktik berkelanjutan di lapangan, dari kebun hingga ke tangan konsumen. {red}*

Tulis Komentar

Komentar