Seputar Publik / Berita

“Mengapa Indonesia Lebih Suka Bayar Mahal Saat Sakit? Saatnya Beralih ke Investasi Pencegahan”

Oleh: Sri Rijki Septiyeni

Pencegahan membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan hasil. Pejabat dengan masa jabatan terbatas cenderung memilih program yang hasilnya cepat terlihat, seperti pembangunan rumah sakit atau pengadaan alat kesehatan.

2. Bias Kognitif dalam Pengambilan Keputusan

Masyarakat dan pengambil kebijakan cenderung lebih peduli pada ancaman yang sudah terjadi (orang yang sakit) dibanding risiko masa depan.


3. Sistem Monitoring yang Lemah

Kesuksesan pencegahan sulit diukur karena indikatornya adalah "orang tidak jadi sakit," sehingga kurang menarik bagi pembuat kebijakan.

4. Pengaruh Industri Kesehatan

Industri farmasi dan alat kesehatan memiliki kepentingan ekonomi dalam mempertahankan pendekatan kuratif yang lebih menguntungkan.

Dampak Ekonomi yang Mengkhawatirkan Paradoks ini membawa konsekuensi ekonomi yang serius. PTM menyumbang hampir 60% klaim BPJS Kesehatan, yang menyebabkan defisit besar setiap tahunnya. Bank Dunia memperkirakan Indonesia kehilangan 1–2% PDB per tahun akibat dampak PTM terhadap produktivitas. Sekitar 15–20% keluarga Indonesia mengalami kemiskinan akibat biaya kesehatan yang bersifat katastrofik. Jika tidak segera diatasi, beban ini dapat mengancam keberlanjutan sistem jaminan kesehatan nasional dan stabilitas ekonomi negara.

Tulis Komentar

Komentar