Ia menjelaskan, pola kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pneumonia di DKI Jakarta masih mengikuti pola musiman yang dapat diprediksi dan dikelola oleh sistem kesehatan. Sepanjang 2025, tren ISPA cenderung meningkat pada awal dan akhir tahun seiring perubahan cuaca dan meningkatnya aktivitas masyarakat, sementara kasus pneumonia tetap berada pada proporsi yang lebih rendah dan terkendali.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, Dinkes DKI Jakarta terus menjalankan surveilans penyakit pernapasan melalui fasilitas sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di puskesmas serta rumah sakit rujukan. Surveilans ini merupakan bagian dari sistem nasional dan global yang terhubung dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Melalui fasilitas sentinel, aktivitas penyakit pernapasan dapat dipantau sepanjang tahun dan menjadi bagian dari surveilans influenza dunia oleh WHO,” kata Ani.
Selain itu, Dinkes DKI Jakarta juga menggencarkan promosi kesehatan melalui edukasi di fasilitas kesehatan, sekolah, perkantoran, tempat ibadah, dan komunitas masyarakat, khususnya pada periode influenza musiman.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti rutin mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit atau berada di kerumunan, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan sirkulasi udara yang baik. Warga juga diminta segera mengakses fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang memberat, terutama bagi kelompok rentan.
Dinkes DKI Jakarta menegaskan, influenza musiman merupakan penyakit yang dapat dicegah dan dikendalikan bersama melalui kewaspadaan, penerapan PHBS, deteksi dini, serta akses layanan kesehatan yang tepat. Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat untuk selalu mengacu pada informasi resmi dari pemerintah dan tenaga kesehatan. (*/hel)
Komentar