Ia menjelaskan bahwa sejak dahulu masyarakat Betawi lebih memilih mengonsumsi daging kerbau dibandingkan sapi saat perayaan Lebaran.
Pada masa lalu, ketika wilayah Betawi masih dikenal sebagai Sunda Kelapa, banyak masyarakat yang memeluk agama Hindu, sementara sapi merupakan hewan yang disucikan oleh umat Hindu.
Karena itu, masyarakat Betawi yang telah memeluk Islam memilih menyembelih kerbau agar tidak menyinggung perasaan pemeluk agama lain.
“Nenek moyang orang Betawi sangat menjaga perasaan saudara yang berbeda keyakinan. Karena itu dipilihlah kerbau sebagai hewan yang disembelih saat Lebaran,” ujarnya.
Menurut Muhidin, nilai-nilai toleransi dan kebersamaan tersebut penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda Betawi di tengah kehidupan Jakarta yang majemuk.
“Ini mengajarkan keluhuran budi orang Betawi yang menjunjung tinggi toleransi dan moderasi dalam beragama, sehingga Jakarta tetap menjadi kota yang aman, rukun, dan harmonis,” tutupnya.(*/hel)
Komentar