Anarkisme itu sendiri, seperti diuraikan Roker, adalah pemikiran sosial yang penganutnya menganjurkan penghapusan kapitalisme dan menggantinya dengan kepemilikan bersama. Kaum anarkis juga menginginkan penghapusan semua institusi sosial-politik yang ada di masyarakat. Negara dengan lembaga politik berikut birokrasinya diganti dengan komunitas bebas yang terikat satu sama lain oleh kepentingan sosial-ekonomi.
Dengan kata lain, seperti tertuang dalam sebuah tulisan di situs Anarkis.org, anarkisme adalah pemikiran yang mendambakan suatu orde yang spontan. Para penganut anarkisme umumnya menolak prinsip otoritas politik. Pada saat yang sama, mereka percaya bahwa keteraturan sosial akan terwujud tanpa adanya otoritas politik itu. Bentuk otoritas politik yang ditentang kaum anarkis adalah yang jelas dimiliki negara modern.
Mikhail A Bakunin (1814-1846) adalah seorang filsuf Rusia yang sering dianggap sebagai ‘kakek’ penganut anarkisme. Bima Satria Putra, dalam buku Perang yang Tidak Akan Kita Menangkan: Anarkisme dan Sindikalisme dalam Pergerakan Kolonial Hingga Revolusi Indonesia (1908-1948), bilang Bakunin adalah teman sekelas sekaligus lawan debat Karl Marx dalam forum Asosiasi Pekerja Internasional (Internasional I) pada 1864-1876.
Silang pendapat Bakunin-Marx terletak pada ide diktator proletariat. Karl Marx dan pengikutnya berpendapat masyarakat tanpa kelas dapat terwujud dengan alat-alat produksi yang telah direbut dari tangan para borjuis yang dikelola oleh negara. Sedangkan Bakunin dan penyokongnya menolak kehadiran negara. Mereka mengajukan gagasan tentang kepemilikan langsung alat-alat produksi itu di bawah asosiasi-asosiasi buruh.
Bima menjelaskan cukup lengkap dan runtut mengenai sejarah anarkisme yang tumbuh dan berkembang di Indonesia sejak era kolonial Belanda. Jejak pertama adalah kritik tajam terhadap sistem kolonialisme yang dilontarkan seorang keturunan Belanda, Eduard Douwes Dekker. Tulisan tokoh bernama samaran ‘Multatuli’ itu telah menginspirasi dan membangkitkan opini publik melawan penjajah.
Lalu anarkisme menyebar seiring menguatnya gerakan kalangan kiri di Indonesia. Pada awal abad ke-20, bermunculan sindikat-sindikat pekerja, seperti serikat buruh kereta api (VSTP) dan Perhimpunan Sosial Demokrat Indonesia (ISDV) pada 1914. Tokoh-tokoh awal Partai Komunis Indonesia (PKI), sebut saja Semaun, Darsono, Alimin, dan Muso, berperan sebagai kunci penggerak organisasi-organisasi tersebut.
Komentar