Meski memberikan apresiasi, Syahrul menegaskan masih terdapat sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian untuk penyelenggaraan haji berikutnya. Beberapa di antaranya berkaitan dengan kapasitas penginapan di Madinah, fasilitas tenda di Mina, serta ketersediaan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) bagi jamaah.
“Di Madinah, jamaah merasakan kapasitas ruang untuk setiap orang dalam penginapan perlu ada standarnya. Tiga orang itu idealnya berapa luas ruang yang tersedia. Banyak jamaah yang mengeluhkan hal tersebut, termasuk saya sendiri yang merasakannya,” ungkapnya.
Selain itu, kondisi tenda di Mina juga dinilai masih cukup padat, sementara jamaah harus bermalam dalam waktu yang relatif lama selama pelaksanaan puncak ibadah haji.
“Ketika dalam satu tenda terdapat sekitar 300 jamaah, tentu harus dihitung secara ideal berapa jumlah MCK yang dibutuhkan, baik di Arafah maupun Mina. Namun untuk konsumsi, saat ini sudah jauh lebih baik. Tidak ada lagi keluhan makanan basi dan cita rasanya juga lebih sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia,” tambah anggota Komisi I DPR RI tersebut.
Pemulangan Jamaah Berlangsung Bertahap
Memasuki fase akhir penyelenggaraan ibadah haji 2026, proses pemulangan jamaah Indonesia saat ini mulai berlangsung secara bertahap.
Pemerintah melalui Kementerian Agama menjadwalkan proses kepulangan jamaah mulai 1 hingga 29 Juni 2026 melalui berbagai embarkasi di Indonesia dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran pelayanan.
Evaluasi yang disampaikan Syahrul Aidi Maazat diharapkan dapat menjadi masukan konstruktif bagi peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji Indonesia pada tahun-tahun mendatang, sehingga pelayanan kepada jamaah semakin optimal dan berorientasi pada kenyamanan serta keselamatan peserta haji.(Red)*
Komentar