Seputarpublik.com || JAKARTA — Pemerintah mendorong pencak silat tradisi Indonesia tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi terus diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan, penguatan sumber daya manusia, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan, Syamsul Hadi, mengatakan pengakuan pencak silat sebagai warisan budaya takbenda UNESCO membawa tanggung jawab bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan tradisi tersebut tetap hidup dan berkembang.
Menurut Syamsul, proses pewarisan menjadi salah satu hal yang paling penting dilakukan agar pencak silat tradisi tidak berhenti sebatas pengakuan sebagai warisan budaya.
"Kementerian Kebudayaan berperan penting dalam rangka mendorong akselerasi, khususnya proses pewarisan. Karena dengan ditetapkan UNESCO, pemerintah Indonesia memiliki kewajiban untuk mengembangkan dan melestarikan silat tradisi ini," ujar Syamsul seusai menghadiri Seminar Nasional Pencak Silat Tradisi Indonesia di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta Timur, Minggu (30/8/2026).
Seminar tersebut mengusung tema "Merawat Warisan, Menguatkan Identitas, Membangun Peradaban" dan menjadi ruang diskusi untuk membahas masa depan pencak silat tradisi di tengah perubahan zaman.
Dorong pencak silat masuk sekolah

Syamsul mengatakan, pemerintah pusat tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga keberlangsungan pencak silat tradisi. Pemerintah daerah, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota, memiliki peran strategis karena pencak silat berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah memperluas proses pewarisan melalui lingkungan pendidikan.
Menurut Syamsul, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memiliki posisi strategis untuk mendorong pencak silat menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
"Yang sangat strategis, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Bisa masuk di kegiatan ekstrakurikuler," katanya.
Namun, upaya tersebut masih menghadapi persoalan ketersediaan tenaga pelatih yang mampu mendampingi siswa di sekolah.
Karena itu, penguatan sumber daya manusia, khususnya pelatih pencak silat tradisi, menjadi salah satu agenda yang perlu dilakukan secara bersama-sama.
Syamsul berharap hasil seminar dan diskusi tersebut dapat menjadi masukan dalam menyusun agenda strategis 2026-2027, terutama untuk memperkuat pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan pencak silat tradisi di berbagai daerah.
Digitalisasi tidak boleh menghilangkan tradisi
Sementara itu, Ketua Harian PB IPSI Edhy Prabowo menilai pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas jangkauan pencak silat, terutama kepada generasi muda.
Menurut Edhy, digitalisasi sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi dunia pencak silat. Sejumlah perguruan telah memanfaatkan teknologi untuk latihan, komunikasi, hingga kegiatan organisasi.
"Digitalisasi bukan hal yang baru buat kita. Setiap perguruan sudah juga menuju ke sana, termasuk latihan gabungan bersama melalui digital," ujar Edhy.
Ia mengatakan perkembangan teknologi bahkan telah memungkinkan latihan gabungan dilakukan secara virtual antardaerah.
"Insya Allah tidak lama kita sudah langsung menjangkau Indonesia. Bahkan salah satu perguruan kita sudah bisa melakukan latihan gabungan secara nasional melalui Zoom meeting," katanya.
Teknologi juga dapat dimanfaatkan dalam kegiatan organisasi, termasuk rapat kerja maupun sistem penilaian.
Namun, Edhy menegaskan digitalisasi tidak boleh dipahami sebagai upaya menggantikan tradisi pencak silat yang selama ini tumbuh melalui pertemuan langsung dan silaturahmi.
Sebaliknya, teknologi harus menjadi sarana untuk memperluas komunikasi dan memperkuat hubungan antarpelaku pencak silat.
"Artinya ini bukan hal yang sulit, tentunya itu tidak mengubah tradisi. Tradisi silaturahmi kan caranya macam-macam," ujar Edhy.
Ia menilai cara manusia membangun komunikasi memang terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika dahulu silaturahmi dilakukan melalui surat, kini komunikasi dapat berlangsung secara cepat melalui teknologi digital.
"Bagi saya, diundang ke KPSTI ini adalah membangun sebuah silaturahmi yang mungkin ada yang pernah putus dan ini mungkin menjadikan satu," katanya.
Pencak silat bisa masuk industri kreatif
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum KPSTI Mahfudz Abdurrahman. Ia melihat digitalisasi sebagai peluang besar untuk memperkenalkan pencak silat tradisi kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurut Mahfudz, teknologi membuat batas geografis semakin tidak berarti. Pencak silat dapat dikemas melalui berbagai konten kreatif yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda.
Salah satunya melalui produksi film pendek dan video yang mengangkat seni, filosofi, sejarah, serta kehidupan para pelaku pencak silat.
"Ini bisa kita kembangkan lewat bikin film pendek, video-video yang kita produksi tanpa harus melalui panggung-panggung yang memakan waktu lama dan biaya besar," ujar Mahfudz.
Menurut dia, pengenalan pencak silat tidak harus selalu dilakukan melalui pertunjukan secara langsung. Konten digital memungkinkan karya dari berbagai daerah diproduksi, dikurasi, dan bahkan dilombakan sehingga dapat melibatkan lebih banyak perguruan dan komunitas.
Mahfudz menilai pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang bagi pencak silat untuk bersinggungan dengan industri kreatif, khususnya perfilman dan produksi konten digital.
Cerita mengenai filosofi, nilai kehidupan, hingga perjalanan para pendekar dapat dikembangkan menjadi karya yang memiliki daya tarik bagi masyarakat luas.
"Dunia sudah tidak berjarak dan informasi cepat tersebar," katanya.
Ia berharap semakin banyak karya kreatif yang mengangkat pencak silat sehingga generasi muda tidak hanya mengenalnya sebagai seni bela diri, tetapi juga memahami nilai budaya dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Pencak silat sebagai pendidikan karakter
Selain menjadi sarana pelestarian budaya, pencak silat juga dinilai memiliki peran penting dalam pembentukan karakter generasi muda.
Pencak silat mengajarkan kedisiplinan, keberanian, kepercayaan diri, sekaligus kemampuan mengendalikan diri.
Nilai tersebut dinilai relevan untuk diterapkan di lingkungan sekolah, termasuk sebagai salah satu pendekatan dalam mencegah perundungan atau bullying.
Kemampuan bela diri, dalam konteks tersebut, tidak dimaksudkan untuk mendorong kekerasan. Sebaliknya, anak didorong memiliki rasa percaya diri dan kemampuan mengendalikan kekuatan yang dimilikinya.
Edhy mengatakan filosofi tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman hidupnya.
"Prinsip silat itu diajarkan jiwa untuk jatuh, bangkit lagi. Jatuhnya bukan yang menjadi masalah, bagaimana bangkitnya yang harus kita raih," ujar Edhy.
Menurut dia, nilai tersebut mengajarkan seseorang untuk tidak berhenti ketika menghadapi kegagalan.
Ia mengaku pernah melewati berbagai fase sulit dalam kehidupan sebelum kemudian mempelajari pencak silat. Nilai-nilai yang diperolehnya dari pencak silat kemudian menjadi salah satu bekal dalam menjalani perjalanan hidup hingga dirinya dipercaya menjadi anggota DPR RI selama tiga periode dan pernah menduduki jabatan menteri.
Regulasi dan ekosistem perlu diperkuat
Di sisi lain, pengembangan pencak silat tradisi juga membutuhkan dukungan regulasi dan ekosistem yang kuat.
Syamsul mengatakan, secara prinsip pemerintah telah memiliki landasan hukum untuk melakukan pemajuan kebudayaan.
"Regulasi sebenarnya sudah nyata. Pertama amanat konstitusi dan juga Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, di mana pemerintah memiliki kewajiban untuk memajukan kebudayaan di semua wilayah," ujar Syamsul.
Meski demikian, kebutuhan terhadap regulasi maupun kebijakan yang lebih spesifik masih dapat dibahas bersama untuk memperkuat ekosistem pencak silat tradisi.
Regulasi diharapkan tidak hanya memberikan pengakuan, tetapi juga mendukung proses pewarisan, penyediaan pelatih, pembinaan generasi muda, serta pengembangan pencak silat sebagai bagian dari kebudayaan dan industri kreatif.
Dalam acara Sarasehan dan Diskusi Panel Pencak Silat Tradisi, terdapat dua sesi pembahasan.
Sesi pertama mengangkat tema "Regulasi, Legalisasi & Strategi Pelestarian dan Pemajuan Ekosistem Pencak Silat Tradisi sebagai Budaya Nasional Indonesia."
Sementara sesi kedua membahas "Nilai Strategis Pencak Silat Tradisi sebagai WBTB oleh UNESCO dan Kewajiban Para Pihak dalam Perlindungan, Pemajuan dan Pemanfaatan."
Diskusi tersebut menghadirkan akademisi, budayawan, pemerintah, serta lembaga terkait untuk membahas berbagai langkah strategis agar pencak silat tradisi tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, digitalisasi bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan menjadi jembatan baru agar nilai-nilai pencak silat dapat menjangkau lebih banyak orang.
Latihan, perguruan, dan silaturahmi secara langsung tetap menjadi ruh pencak silat. Namun, melalui ruang digital, warisan budaya tersebut memiliki kesempatan lebih besar untuk dikenal generasi muda di berbagai daerah, bahkan diperkenalkan ke masyarakat dunia.(*/hel)