Seputarpublik.com || SERANG BANTEN – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 36 Desa Tegal Maja Universitas Bina Bangsa berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI) serta dosen Program Studi Psikologi Universitas Bina Bangsa menggelar sosialisasi bertajuk "Bahaya Pernikahan Dini" di MAN 1 Serang, Senin (3/8/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKM Kelompok 36 yang bertujuan memberikan edukasi kepada remaja mengenai pentingnya memahami dampak pernikahan dini serta mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan besar dalam kehidupan.
MAN 1 Serang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena para peserta didiknya berada pada fase remaja, yakni masa penting dalam pembentukan karakter, identitas diri, serta perencanaan masa depan.
Untuk menghadirkan materi yang komprehensif, Mahasiswa KKM Kelompok 36 menggandeng HIMAPSI Universitas Bina Bangsa serta menghadirkan dosen Program Studi Psikologi Universitas Bina Bangsa yang juga merupakan Pembina HIMAPSI. Kolaborasi tersebut menghadirkan perspektif akademis berbasis ilmu psikologi sekaligus pendekatan yang dekat dengan kehidupan remaja.
Dalam pemaparannya, dosen Program Studi Psikologi Universitas Bina Bangsa menegaskan bahwa pernikahan merupakan salah satu keputusan terbesar dalam kehidupan sehingga tidak cukup hanya didasarkan pada rasa cinta ataupun keinginan sesaat.
"Pernikahan bukan hanya tentang kesiapan usia, tetapi juga kesiapan psikologis. Ketika seseorang memutuskan menikah, ia sedang mengambil keputusan yang akan memengaruhi kehidupannya dalam jangka panjang," ujar dosen Program Studi Psikologi Universitas Bina Bangsa sekaligus Pembina HIMAPSI.
Ia menjelaskan bahwa kesiapan menikah dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kematangan emosional, kemampuan mengelola konflik, keterampilan berkomunikasi, kesiapan menjalankan peran sebagai pasangan, kesiapan ekonomi, hingga kemampuan memikul tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa usia bukan satu-satunya indikator keberhasilan sebuah pernikahan. Yang lebih penting adalah kesiapan individu dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan rumah tangga secara dewasa dan bertanggung jawab.
Pada sesi berikutnya, materi disampaikan oleh perwakilan Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI) Universitas Bina Bangsa dengan pendekatan yang komunikatif dan interaktif. Para peserta diajak memahami pernikahan dini dari sudut pandang remaja, mulai dari mengenali alasan ingin menikah, membedakan antara keinginan dan kesiapan, hingga memahami berbagai konsekuensi setelah memasuki kehidupan berumah tangga.
"Melalui materi ini kami tidak ingin mengajak teman-teman untuk menolak ataupun terburu-buru menikah. Kami hanya ingin memberikan sudut pandang bahwa setiap keputusan besar membutuhkan pertimbangan yang matang agar tidak menyesal di kemudian hari," ungkap perwakilan HIMAPSI Universitas Bina Bangsa.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa HIMAPSI mengajak para siswa melakukan refleksi melalui sejumlah pertanyaan, seperti alasan ingin menikah, pengaruh lingkungan terhadap keputusan yang diambil, hingga kesiapan menghadapi konsekuensi setelah menikah. Pendekatan tersebut mendorong peserta untuk berpikir lebih kritis dan rasional sebelum mengambil keputusan penting dalam hidup.
Kegiatan yang diikuti sekitar 55 siswa-siswi kelas XII MAN 1 Serang ini berlangsung aktif dan interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan serta berbagi pandangan mengenai fenomena pernikahan dini yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.
Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKM Kelompok 36 Desa Tegal Maja berharap para siswa tidak hanya memahami dampak pernikahan dini, tetapi juga memiliki bekal dalam mengambil keputusan secara bijaksana berdasarkan kesiapan diri, bukan semata-mata karena dorongan emosi maupun pengaruh lingkungan.
Kolaborasi antara Mahasiswa KKM Kelompok 36, HIMAPSI, dan dosen Program Studi Psikologi Universitas Bina Bangsa menjadi wujud sinergi antara mahasiswa dan akademisi dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi yang aplikatif, berbasis keilmuan, dan relevan dengan tantangan generasi muda.
Kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi remaja mengenai kesehatan psikologis, perencanaan masa depan, serta kemampuan mengambil keputusan secara bijak, bertanggung jawab, dan berorientasi pada masa depan.(Red)*