Dalam kesempatan tersebut, Marullah juga mengingatkan pentingnya menjaga marwah dan kehormatan ulama.
Menurutnya, kedudukan ulama yang dihormati masyarakat perlu diiringi dengan sikap, konsistensi, serta keteladanan dalam menjalankan peran di tengah kehidupan umat.
Marullah juga mengutip ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Malik, al-'ilmu yu'ta wa la ya'ti, yang secara umum dimaknai bahwa ilmu didatangi, bukan mendatangi.
Menurut Marullah, ungkapan tersebut dapat menjadi pengingat agar ulama tetap menjaga sikap dan kehormatan keilmuan dalam berinteraksi dengan berbagai pihak.
«“Ulama harus konsisten, istiqamah, konsekuen, serta memiliki marwah atau kehormatan,” katanya.»
Ia menilai komunikasi yang baik antara ulama dan umara menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kehidupan masyarakat tetap harmonis.
Sinergi untuk Kepentingan Umat
Marullah berharap hubungan yang harmonis antara ulama dan umara dapat terus dibangun, bukan hanya dalam forum keagamaan, tetapi juga ketika menghadapi berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan.
Menurutnya, pemahaman terhadap peran masing-masing dapat membantu menghindari kesalahpahaman sekaligus memperkuat kerja sama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dengan komunikasi yang baik, sinergi, serta penghormatan terhadap porsi dan kewenangan masing-masing, ulama dan umara diharapkan dapat menjadi kekuatan bersama dalam menjalankan amanah serta memberikan pelayanan terbaik kepada umat dan masyarakat Jakarta.
Pesan tersebut menjadi penekanan Marullah bahwa kekuatan hubungan ulama dan umara bukan terletak pada penyamaan peran, melainkan pada kemampuan keduanya untuk saling memahami, menguatkan, dan bekerja sesuai tanggung jawab masing-masing.(*/hel)
Komentar