Seputarpublik.com, BEKASI — Peristiwa tabrakan KRL di perlintasan Bekasi Timur memicu perbincangan luas di media sosial. Salah satu sorotan publik adalah keberadaan mobil listrik yang diduga mogok di jalur rel sebelum insiden terjadi, sehingga memunculkan pertanyaan mengapa kendaraan tersebut tidak dapat didorong untuk menghindari kecelakaan.
Menanggapi hal tersebut, pendiri EV Safe sekaligus dosen di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar, menjelaskan bahwa mobil listrik memiliki karakteristik teknis berbeda dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin, terutama saat mengalami mati total.
Menurutnya, meskipun mobil listrik menggunakan baterai utama bertegangan tinggi, sejumlah sistem vital seperti pengoperasian transmisi tetap bergantung pada aki 12 volt.
Ilustrasi penanggulangan mobil listrik yang mogok
“Jika aki 12V lemah atau habis, sistem tidak dapat aktif sehingga kendaraan tidak bisa dipindahkan ke posisi netral,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi faktor utama mengapa mobil listrik yang mogok tidak serta-merta bisa didorong. Berbeda dengan mobil konvensional, kendaraan listrik dapat tetap terkunci karena sistem pengereman masih aktif ketika kehilangan daya.
Komentar