“Pembaca sekarang pintar. Jadi, jangan anggap pembaca bodoh. Penulis harus terbuka pada masukan dan kerja kolektif bersama editor,” katanya menambahkan.
Sementara itu, Ninus Andarnuswari mengingatkan bahwa manusia justru istimewa karena ketidaksempurnaannya.
“AI bisa membantu, tapi tak bisa menggantikan intuisi dan emosi manusia. Lewat novel, kalian bisa bereksperimen dengan cara yang tidak bisa dilakukan mesin,” ujarnya.
Ninus juga berharap para penulis bisa menemukan editor yang menjadi teman diskusi, bukan sekadar korektor.
“Editor yang baik bisa menegosiasikan naskah kalian sampai ke tahap pemasaran dan advokasi naskah,” tambahnya.
Sesi hari kedua ditutup dengan pesan dari Koordinator MTN Sastra DKJ, David Irianto, yang meminta peserta tetap antusias menyambut hari terakhir.
“Besok kita bahas soal intelektual properti materi penting agar karya teman-teman bisa bersinar, baik di kancah nasional maupun internasional,” ujarnya menutup sesi.
Kegiatan Master Class MTN Lab ini merupakan bagian dari rangkaian Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2025, yang diikuti oleh 15 penulis terpilih dari lebih dari seribu pendaftar.(*/hel)
Komentar