Menurutnya, komoditas singkong tidak lagi hanya dipandang sebagai bahan pangan mentah, tetapi sebagai sumber energi dengan nilai tambah tinggi. “Hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing industri domestik sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi hasil pertanian dalam negeri,” jelasnya.
Dari sisi akademik, FP Unila yang telah ditetapkan oleh Bappenas sebagai pusat penelitian singkong nasional, turut memberikan dukungan teknis. Dekan FP Unila, Kuswanta Futas Hidayat, menyampaikan bahwa pihaknya tengah mengejar target produktivitas hingga 30 ton per hektare melalui berbagai langkah strategis, mulai dari pemetaan klon unggul, perbanyakan bibit, hingga penerapan mekanisasi budidaya di sejumlah wilayah sentra.
Namun demikian, para akademisi mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem industri. Udin Hasanudin menekankan agar pengembangan bioetanol tidak mengganggu industri tapioka yang telah berjalan. Sementara Setyo Dwi Utomo menyoroti pentingnya pemanfaatan klon lokal untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Di sisi lain, Radix Suharjo menegaskan pentingnya menjaga kesehatan tanah melalui penggunaan bahan organik dan mikroba agar produktivitas tetap terjaga dalam jangka panjang.
Sinergi lintas sektor antara PTPN dan Unila ini bermuara pada satu tujuan utama, yakni peningkatan kesejahteraan petani. Seluruh pihak sepakat bahwa kolaborasi antara riset, industri, dan petani menjadi kunci keberhasilan hilirisasi singkong yang berkelanjutan.
Dengan integrasi yang kuat, pengembangan bioetanol di Lampung diharapkan tidak hanya memperkuat kedaulatan energi nasional, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi baru yang mampu meningkatkan taraf hidup petani secara signifikan.(Adv)*
Komentar