Seputar Publik / Berita

PTPN I Regional 5 Jaga Mutu Tembakau Besuki, Bidik Pasar Cerutu Premium Dunia

Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I Regional 5 menerapkan budidaya presisi, inovasi berbasis riset, dan rekayasa iklim mikro untuk menjaga kualitas Tembakau Bawah Naungan (TBN) Besuki sebagai bahan baku pembungkus cerutu premium berstandar global.
PTPN I Regional 5 menerapkan budidaya presisi dan inovasi berbasis riset untuk menjaga kualitas Tembakau Bawah Naungan (TBN) Besuki sebagai salah satu bahan baku pembungkus cerutu premium yang berdaya saing di pasar internasional. PTPN I Regional 5 menerapkan budidaya presisi dan inovasi berbasis riset untuk menjaga kualitas Tembakau Bawah Naungan (TBN) Besuki sebagai salah satu bahan baku pembungkus cerutu premium yang berdaya saing di pasar internasional.

Pada tahap pascapanen, PTPN I juga melakukan penyempurnaan proses penyujenan atau perangkaian daun menggunakan tali yute. Setelah melakukan evaluasi terhadap sistem lima lembar (Lemak Orod) yang diterapkan pada periode 2019–2024, perusahaan kini mengadopsi sistem empat lembar (Empak Orod) atau pola Pak Erod.

Pola tersebut dinilai mampu memudahkan pekerja menjaga konsistensi posisi daun sehingga menghasilkan warna pengeringan yang lebih seragam dan kualitas produk yang lebih baik.

Seluruh proses budidaya Tembakau Bawah Naungan di PTPN I disusun secara terencana (by design) dengan mengacu pada target penjualan global setiap pertengahan Oktober. Tahapan tersebut meliputi seleksi lahan bekas sawah bersama petani, penentuan jadwal tanam pada Mei–Juni untuk menghindari puncak populasi serangga, pengaturan panen berkala dua lembar setiap tiga hari, hingga penentuan dosis pupuk berdasarkan hasil uji laboratorium tanah yang mendapat rekomendasi Pusat Penelitian Tembakau.

Syaifudin menegaskan bahwa industri tembakau cerutu memiliki karakteristik khusus karena keberhasilannya lebih ditentukan oleh kualitas daripada kuantitas produksi.

"Orientasi pada kualitas tertinggi sangat krusial mengingat perbedaan nilai ekonomi antar-grade di pasar global sangat signifikan," katanya.

Saat ini, harga tembakau kualitas premium dapat mencapai sekitar Rp1 juta per kilogram, sementara kualitas medium berada di kisaran Rp600 ribu per kilogram, dan low grade berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Karena itu, luas areal tanam setiap tahun ditetapkan berdasarkan komitmen serapan pasar (market demand) dari pembeli luar negeri. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menjaga efisiensi operasional sekaligus memastikan volume produksi tetap selaras dengan kebutuhan pasar internasional.

Melalui penerapan budidaya presisi, penguatan riset, serta pengelolaan produksi berbasis kebutuhan pasar, PTPN I terus memperkuat posisi Tembakau Besuki sebagai komoditas premium Indonesia yang mampu bersaing di pasar cerutu dunia sekaligus memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi industri perkebunan nasional.(Adv)*

Tulis Komentar

Komentar