Menurut Jatmiko, tantangan industri sawit nasional ke depan diperkirakan semakin kompleks. Hal tersebut mencakup dinamika harga komoditas, tuntutan pasar global terhadap tata kelola lingkungan dan keberlanjutan, hingga kebutuhan peningkatan efisiensi operasional.
Karena itu, ia menekankan pentingnya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) yang didorong melalui inovasi di seluruh lini perusahaan, termasuk dari hal-hal kecil yang dapat memberikan dampak positif.
Bangun Resiliensi dan Keberanian Mengambil Keputusan
Dalam sesi Executive Sharing, Jatmiko menggunakan pendekatan filosofis untuk menjelaskan pentingnya daya tahan (resilience) dalam menghadapi tantangan di lingkungan kerja.
Ia menggambarkan bahwa proses pembentukan material di alam membutuhkan tekanan tinggi untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai. Menurutnya, analogi tersebut dapat menjadi gambaran bahwa tantangan dan tekanan yang dihadapi dalam perjalanan profesional dapat membentuk karakter serta ketangguhan seseorang.
“Untuk berubah, seringkali yang paling mudah adalah dengan tekanan. Tidak ada barang bagus yang lahir tanpa tekanan. Contohnya tembaga dan berlian, tekanannya lebih besar mana? Berlian yang ukurannya kecil bisa sangat mahal karena ia dibentuk oleh tekanan ribuan derajat dan bar,” paparnya.
Komentar