Beranda
Seputar Publik / Berita

Silaturahmi Akbar Majelis Kaum Betawi 2026 Teguhkan Persatuan dan Identitas Budaya Betawi di Jakarta

Tokoh adat, ulama, dan Pemprov DKI Jakarta komit memperkuat peran Majelis Kaum Betawi sebagai lembaga adat resmi penjaga marwah dan masa depan Betawi.
Silaturahmi Akbar Majelis Kaum Betawi 2026 di Jakarta menjadi momentum penguatan persatuan dan komitmen bersama menjaga identitas budaya Betawi sebagai fondasi masa depan Ibu Kota. Minggu, (15/2/2026). Silaturahmi Akbar Majelis Kaum Betawi 2026 di Jakarta menjadi momentum penguatan persatuan dan komitmen bersama menjaga identitas budaya Betawi sebagai fondasi masa depan Ibu Kota. Minggu, (15/2/2026).

Seputarpublik.com, JAKARTA — Majelis Kaum Betawi (MKB) menggelar Silaturahmi Akbar Kaum Betawi pada Minggu (15/2/2026) sebagai langkah strategis memperkuat persatuan, kebersamaan, dan pelestarian nilai adat serta budaya Betawi di tengah dinamika masyarakat Jakarta.

Kegiatan berlangsung di Museum MH Thamrin, Jalan Kenari I Nomor 15, Senen, Jakarta Pusat. Acara dihadiri tokoh adat, ulama, tokoh masyarakat, serta warga Betawi dari berbagai wilayah.

Momentum ini menjadi ajang konsolidasi untuk meneguhkan komitmen menjaga warisan budaya Betawi sebagai bagian penting dari identitas Jakarta.

Sejarah Lahirnya Majelis Kaum Betawi


Ketua Bamus Betawi 1982, H. Zainuddin (H. Oding), menjelaskan bahwa MKB lahir dari kesepakatan besar seluruh elemen masyarakat Betawi untuk bersatu dalam satu wadah adat yang kuat dan representatif.

Gagasan pembentukan MKB dirintis sejak 2022 melalui pertemuan lintas organisasi, ulama, dan cendekiawan Betawi. Kesepakatan tersebut kemudian diformalkan melalui deklarasi pada 22 Desember 2022 di Balai Kota Jakarta.

Pra-Kongres Kaum Betawi digelar pada 9 Juni 2023, dilanjutkan Kongres Kaum Betawi pada 10 Juni 2023 di Ancol yang secara bulat menetapkan MKB sebagai satu-satunya lembaga adat resmi masyarakat Betawi.

> “MKB bukan sekadar simbol adat, tetapi penjaga identitas, pemersatu umat, dan penggerak kemajuan kaum Betawi di tanahnya sendiri,” tegas H. Oding.

Tausiyah Ramadan dan Etika Sosial

Ulama Betawi, KH. Muhyidin Ishaq, dalam tausiyahnya mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan perilaku, terutama di era digital. Ia menegaskan bahwa menyebarkan informasi tanpa verifikasi merupakan tindakan yang harus dihindari.

Ia juga mengingatkan agar tradisi buka puasa bersama tidak menjadi ruang ghibah. Ramadan, menurutnya, adalah momentum memperbaiki akhlak dan memperkuat interaksi dengan Alquran.

Persatuan sebagai Kekuatan

Ketua Dewan Adat MKB, Fauzi Bowo atau Bang Foke, menegaskan bahwa persatuan adalah kekuatan utama masyarakat Betawi dalam menjaga marwah dan identitas.

> “Kalau Betawi rukun dan bersatu, insyaallah kaum lain akan hormat. Persatuan inilah yang harus kita jaga sampai kapan pun,” ujarnya.

Silaturahmi ini juga bertepatan dengan momentum kelahiran pahlawan nasional Betawi, Mohammad Husni Thamrin, yang menjadi simbol perjuangan dan keteladanan kaum Betawi.

Komitmen Pemprov DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk terus menjaga dan mengembangkan budaya Betawi sebagai ruh dan identitas utama Jakarta.

> “Betawi harus menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. Jika Betawi bersatu, budayanya kuat, dan ekonominya berdaya, Jakarta akan memiliki identitas yang kokoh,” ujarnya.

Sejumlah tokoh Betawi dan pejabat turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya KH. Marullah Matali, Riano P Ahmad, Uus Kuswanto, Dailami Firdaus, Arifin, Nachrowi Ramli, Ibnu Chuldun, Sylviana Murni, Beky Mardani, M. Ihsan, serta tokoh ulama dan masyarakat Betawi lainnya.

Silaturahmi Akbar MKB 2026 diharapkan menjadi mata rantai penting dalam perjalanan persatuan Kaum Betawi serta penguatan peran adat dalam pembangunan Jakarta ke depan. {Hel}*