Seputar Publik / Berita

Tekan Impor Kedelai, PTPN IV PalmCo Mulai Pilot Project 1.000 Hektare di 6 Provinsi

Pilot project kedelai digelar serentak di 20 titik wilayah kerja PTPN IV PalmCo dengan memanfaatkan kawasan replanting sawit sebelum ditanami kembali.
PTPN IV PalmCo memulai pilot project penanaman kedelai seluas 1.000 hektare di 20 titik wilayah kerja perusahaan sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional dan pengurangan ketergantungan impor kedelai. PTPN IV PalmCo memulai pilot project penanaman kedelai seluas 1.000 hektare di 20 titik wilayah kerja perusahaan sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional dan pengurangan ketergantungan impor kedelai.

Menurut Rizal, kolaborasi tersebut diperlukan apabila program nantinya dikembangkan dalam skala yang lebih besar.

> “Jika ingin skalanya lebih besar dan persentase keberhasilannya tinggi, kerja sama banyak pihak mulai dari pemerintah, perusahaan, kelompok tani dan mitra strategis lainnya pasti akan sangat dibutuhkan, termasuk kepastian serapan dari offtaker,” kata Rizal.

Ia berharap pilot project kedelai PTPN IV PalmCo dapat memberikan hasil yang baik dan memberikan dampak maksimal bagi program ketahanan pangan.

Gunakan Kedelai Varietas Grobogan

Dalam tahap awal pengembangan, PTPN IV PalmCo menanam kedelai varietas Grobogan yang disebut memiliki potensi produksi hingga 2 ton per hektare dengan siklus tanam sekitar 85–90 hari.

Pengembangan komoditas tersebut tidak hanya bergantung pada aspek budidaya, tetapi juga membutuhkan dukungan ekosistem dari berbagai pihak.

Ketersediaan sarana produksi, pendampingan, dukungan pemerintah, pengelolaan lahan, hingga kepastian pasar dan serapan hasil produksi menjadi bagian penting dalam pengembangan program.

Dengan demikian, pilot project seluas 1.000 hektare tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi dapat menjadi dasar evaluasi untuk kemungkinan pengembangan budidaya kedelai secara lebih luas dan berkelanjutan.

Bagi PTPN IV PalmCo, langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari optimalisasi aset perkebunan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, dengan tetap mempertimbangkan hasil evaluasi dan kelayakan pengembangan pada tahap berikutnya.(Red.)*

Tulis Komentar

Komentar