Meski demikian, peningkatan penjualan tidak sepenuhnya diikuti oleh kenaikan laba operasional. EBITDA perusahaan tercatat sebesar Rp3,70 miliar per Maret 2026, sedikit menurun dibandingkan Rp3,82 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, perusahaan menilai kemampuan menghasilkan kas masih berada pada level yang sehat.
Panen Diundur Demi Menjaga Mutu
Di sisi operasional, perusahaan menghadapi tantangan dari faktor cuaca. Curah hujan yang tinggi menyebabkan intensitas penyinaran matahari berkurang, sehingga memengaruhi proses fotosintesis dan pematangan buah kopi.
Akibatnya, perkembangan buah kopi atau coffee cherry berlangsung lebih lambat dibandingkan kondisi normal di sejumlah wilayah operasional perusahaan.
Di kawasan Java Coffee Estate (JCE) di lereng Dataran Ijen, Jawa Timur, misalnya, curah hujan mencapai 120 milimeter dengan 21 hari hujan sepanjang triwulan pertama. Sementara itu, di wilayah Jambi, curah hujan tercatat 57 milimeter dengan 10 hari hujan dalam periode yang sama.
Manajer KSO Java Coffee Estate, Hastudy Yunarko, mengatakan kondisi tersebut membuat perusahaan harus mengambil langkah strategis agar kualitas produk tetap terjaga.
“Jika panen dipaksakan saat buah belum matang sempurna, kualitas seduhan kopi akan turun. Itu tentu berisiko terhadap standar mutu produk yang kami jaga,” jelas Hastudy.
Oleh karena itu, manajemen memutuskan untuk menggeser jadwal panen raya hingga Mei 2026, menyesuaikan dengan potensi kematangan alami kopi cherry merah di lapangan.
Langkah ini dinilai memberikan waktu tambahan bagi buah kopi untuk mencapai tingkat kematangan optimal sebelum dipanen dan diproses lebih lanjut.
Menurut Hastudy, keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga kualitas produk di tengah tekanan faktor cuaca yang semakin tidak menentu.
“Dalam situasi seperti ini, kami memilih menunggu hingga buah benar-benar matang agar kualitas kopi tetap terjaga saat masuk ke pasar,” ujarnya.
Di tengah dinamika perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, pelaku industri perkebunan dituntut semakin adaptif dalam mengelola produksi. Bagi PTPN IV PalmCo, menjaga keseimbangan antara kuantitas produksi dan kualitas hasil menjadi kunci utama dalam mempertahankan kinerja sekaligus memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar global.(red)*
Komentar