Seputar Publik / Berita

Uchok Sky Khadafi Diteror Paket Bangkai Ayam, Ancaman Serius terhadap Suara Kritis

Aktivis Anggaran CBA Diduga Diintimidasi Usai Gencar Bongkar Dugaan Korupsi di Lembaga Negara
Ilustrasi paket misterius berisi bangkai ayam dan pesan ancaman yang diterima Direktur Eksekutif CBA Uchok Sky Khadafi di kediamannya, Babelan, Kabupaten Bekasi. Ilustrasi paket misterius berisi bangkai ayam dan pesan ancaman yang diterima Direktur Eksekutif CBA Uchok Sky Khadafi di kediamannya, Babelan, Kabupaten Bekasi.

Seputarpublik.com | BEKASI — Teror terhadap kebebasan berpendapat kembali terjadi. Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menerima kiriman paket berisi bangkai ayam yang diletakkan tepat di depan kediamannya di Babelan, Kabupaten Bekasi, Kamis (22/1/2026).

Tak hanya bangkai ayam, paket tersebut juga disertai secarik kertas berisi ancaman serius. Dalam pesan itu tertulis, “Uchok hati-hati dalam menulis dan berkomentar di media jika ingin keluarga selamat.”

Uchok mengungkapkan, paket teror itu diterimanya sesaat setelah waktu Magrib. Ia menduga kuat aksi intimidasi tersebut berkaitan dengan aktivitasnya selama ini yang konsisten mengkritisi dugaan korupsi anggaran di berbagai lembaga pemerintahan, BUMN, hingga BUMD.

> “Paket ini saya terima habis Magrib. Isinya bangkai ayam dan ada pesan ancaman yang jelas-jelas ditujukan kepada saya dan keluarga,” ujar Uchok kepada wartawan, Kamis (22/1/2026).

Menurut Uchok, teror semacam ini merupakan bentuk pembungkaman terhadap suara kritis masyarakat sipil serta ancaman nyata terhadap kebebasan berekspresi dalam negara demokrasi.

> “Saya melihat ini sebagai upaya menakut-nakuti agar saya berhenti mengungkap dugaan korupsi. Tapi saya tegaskan, teror tidak akan menghentikan perjuangan saya dalam mengawal anggaran publik,” tegasnya.

Ia menilai, praktik intimidasi terhadap aktivis dan pengawas anggaran merupakan alarm serius bagi penegakan hukum dan demokrasi, sekaligus menuntut respons tegas dari aparat penegak hukum untuk mengungkap pelaku dan motif di balik aksi teror tersebut.

Kasus ini menambah daftar panjang intimidasi terhadap pengkritik kebijakan dan pengawas keuangan negara, yang dinilai dapat mencederai prinsip transparansi, akuntabilitas, serta supremasi hukum di Indonesia. [Red]

Tulis Komentar

Komentar