Lebih lanjut, Wiyagus menekankan bahwa penanganan TBC tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat.
Ia mendorong agar pendekatan yang dilakukan bersifat proaktif, dengan menjangkau langsung masyarakat, bukan hanya menunggu pasien datang ke fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit.
“Kita harus proaktif, bukan hanya menunggu. Di sinilah pentingnya kolaborasi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa persoalan TBC tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga berdampak pada produktivitas masyarakat serta kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, penanganannya menjadi bagian penting dalam mendukung agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Di akhir pernyataannya, Wiyagus mengajak seluruh pihak untuk menghilangkan stigma terhadap TBC di tengah masyarakat.
“Tuberkulosis ini bukan aib. Penyakit ini bisa diobati dan tidak perlu ditutup-tutupi,” pungkasnya.(red)*
Komentar