Sejumlah pemberitaan mengenai penetapan tersebut menyebut penguatan budaya dari tingkat masyarakat dan kampung adat menjadi bagian dari arah kegiatan MASDA Jawa Barat.
Peran tersebut menjadi fase berbeda dalam perjalanan Anton setelah puluhan tahun berada di lingkungan kepolisian.
Dua Fase Perjalanan Pengabdian
Jika dipetakan berdasarkan perjalanan kariernya, rekam jejak Anton Charliyan dapat dilihat melalui dua fase besar.
Pertama, fase Bhayangkara. Dimulai dari Akpol 1984, berkembang melalui fungsi reserse, berbagai jabatan kewilayahan dan Mabes Polri, kemudian Kadiv Humas Polri, Kapolda Sulawesi Selatan hingga Kapolda Jawa Barat.
Kedua, fase pengabdian sosial dan budaya. Setelah purnatugas, Anton terlibat dalam aktivitas sosial dan politik, kemudian semakin aktif dalam kegiatan kebudayaan hingga dipercaya memimpin Majelis Adat Sunda Jawa Barat.
Dengan demikian, perjalanan Anton mencakup berbagai ruang pengabdian, mulai dari tugas kepolisian dan keamanan hingga kegiatan sosial, adat dan kebudayaan.
Tujuh Catatan dalam Rekam Jejak Anton Charliyan
1. Lulusan Akpol 1984 dan menempuh berbagai pendidikan pengembangan kepolisian.
2. Memiliki pengalaman panjang di bidang reserse, termasuk menangani sejumlah perkara yang mendapat perhatian publik.
3. Menduduki 27 posisi jabatan dalam karier Polri, menurut catatan Pikiran Rakyat.
4. Pernah dipercaya sebagai Kadiv Humas Polri dan Kapolda Sulawesi Selatan.
5. Pernah memimpin Polda Jawa Barat pada 2016–2017.
6. Menerima sejumlah tanda jasa kepolisian, termasuk Bintang Bhayangkara Nararya dan Bintang Bhayangkara Pratama.
7. Pada 2026 ditetapkan sebagai Ketua Umum merangkap anggota Majelis Adat Sunda Jawa Barat periode 2026/2027.
Kini, Anton Charliyan berada pada fase berbeda dalam perjalanan pengabdiannya. Setelah purnatugas dari kepolisian, ruang aktivitasnya berlanjut melalui masyarakat, adat dan kebudayaan Sunda.
*(Redaksi)
Komentar