Seputarpublik.com || BALI, — Bali Harmony Encounter Week 2026 yang berlangsung pada 2–7 September 2026 mencapai puncaknya melalui Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026 yang digelar di Sunset Mandala, Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Kegiatan tersebut mempertemukan delegasi dari lebih dari 70 negara yang berasal dari unsur pemerintah, sektor teknologi, akademisi, masyarakat sipil, hingga komunitas lokal.
Mengusung tema “Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi para peserta untuk memaknai kembali arti kedamaian di tengah perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), serta berbagai tantangan dan fragmentasi global.
Rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 sebelumnya diawali dengan Bali Harmony Dialogue pada 3 September 2026 di United in Diversity (UID) Bali Campus, KEK Kura Kura Bali. Dialog tersebut menjadi bagian dari rangkaian awal inisiatif AI World Congress Bali dan mempertemukan para pakar dari tiga sektor (tri-sector) untuk membahas kesenjangan AI global yang dinilai semakin melebar.
Dalam kuliah umum bertajuk “Intelligence: Natural and Artificial”, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, memaparkan pandangan strategis mengenai peluang negara berkembang untuk bertransformasi dari konsumen teknologi menjadi pihak yang lebih aktif dalam tata kelola dan riset AI global.
Kegiatan paralel lainnya mencakup Consultative Dialogue on Youth, yang mempertemukan inovator muda dan perintis industri. Forum tersebut mengangkat pentingnya kerangka pendidikan yang memadukan keterampilan teknis dengan kepemimpinan etis dan pendekatan yang berpusat pada manusia.
Sementara itu, pada 4–6 September 2026, World Encounter Summit Bali: XI International Scholas Chairs Congress menghimpun delegasi dari lebih dari 140 universitas di 70 negara dengan tema “Artificial Intelligence and Human Meaning”.
Forum tersebut menempatkan peran generasi muda dan kearifan lokal sebagai bagian penting dalam pembahasan mengenai etika teknologi dan masa depan AI. Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Luhut B. Pandjaitan.
Kedamaian sebagai Praktik Kehidupan

Dalam refleksi yang disampaikan pada kegiatan tersebut, Suyoto dari United in Diversity Foundation menekankan bahwa kedamaian bukan hanya tujuan yang hendak dicapai, tetapi hubungan yang perlu dirawat secara aktif dalam kehidupan sehari-hari.
«“Kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus kita rawat secara aktif setiap hari,” ujar Suyoto.»
Ia menyampaikan bahwa di tengah berbagai tantangan global, Indonesia terus mencatatkan perkembangan pada sejumlah indikator pembangunan manusia dan kerukunan umat beragama.
Melalui THK Universal Reflection Forum, Yayasan United in Diversity membawa semangat Tri Hita Karana yang dipandang memiliki nilai universal dan dapat ditemukan dalam berbagai ajaran agama serta tradisi di Indonesia.
Pentingnya kepemimpinan moral di tengah perubahan global juga menjadi salah satu pesan yang disampaikan jajaran Kementerian Agama.
Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, yang hadir mewakili Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. K.H. Nazaruddin Umar, M.A., mengajak generasi muda dan masyarakat untuk memulai upaya menjaga kedamaian dari lingkungan terdekat.
«“Transformasi besar tidak lahir dari satu cahaya raksasa, melainkan dari lilin-lilin kecil yang kita bawa bersama,” jelas Arskal Salim.»
Ia juga menekankan bahwa seruan “kedamaian dalam diri, kedamaian antarsesama, kedamaian dengan seluruh kehidupan” bukan sekadar slogan, melainkan dorongan untuk melakukan tindakan nyata yang dimulai dari diri sendiri.
Kolaborasi Lintas Sektor
Penyelenggaraan Bali Harmony Encounter Week 2026 turut didukung sejumlah mitra korporasi dan institusi yang memiliki perhatian terhadap transformasi lintas sektor.
Dukungan tersebut antara lain datang dari Astra, Pertamina, Freeport Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Danantara, Sinar Mas, PT Gajah Tunggal Tbk., serta KEK Kura Kura Bali.
Keterlibatan berbagai mitra tersebut mencerminkan dorongan untuk membangun kolaborasi antara inovasi teknologi, sektor keuangan, keadilan sosial, dan pelestarian budaya.
Melalui rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026, dialog mengenai teknologi dan kecerdasan buatan tidak hanya ditempatkan dalam perspektif inovasi, tetapi juga dikaitkan dengan martabat manusia, kepemimpinan etis, keberlanjutan, serta pentingnya membangun kedamaian dalam kehidupan bersama.(Red.)*