Seputar Publik / Berita

Bang Foke: Tradisi Bandeng Rawa Belong Cerminkan Akulturasi Budaya dan Potensi Wisata Jakarta

Warisan Betawi–Tionghoa dinilai bisa jadi magnet pariwisata lewat Festival Bandeng Rawa Belong 2026
Bang Foke saat diskusi budaya Ngopi Bandeng menilai tradisi Bandeng Rawa Belong sebagai simbol akulturasi Betawi–Tionghoa sekaligus potensi penguatan pariwisata Jakarta. Bang Foke saat diskusi budaya Ngopi Bandeng menilai tradisi Bandeng Rawa Belong sebagai simbol akulturasi Betawi–Tionghoa sekaligus potensi penguatan pariwisata Jakarta.

> “Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Betawi sejak lama hidup berdampingan dan berinteraksi secara harmonis dengan berbagai budaya di Jakarta,” ujar Bang Foke.

Ia menjelaskan, ikan bandeng memiliki makna filosofis penting dalam budaya Tionghoa, antara lain melambangkan kerja keras, keberuntungan, serta ketangguhan menghadapi tantangan. Nilai tersebut kemudian diterima dan diadaptasi masyarakat Betawi.

Seiring waktu, bandeng tak hanya menjadi simbol Imlek, tetapi juga bagian dari tradisi silaturahmi masyarakat Betawi, terutama sebagai hantaran kepada keluarga dan kerabat.

> “Bandeng Imlek menjadi kebiasaan masyarakat Betawi. Ini bukti nyata proses akulturasi budaya yang tumbuh alami di Jakarta,” tambahnya.

Didorong Jadi Festival Budaya Tahunan

Bang Foke menilai tradisi Bandeng Rawa Belong mencerminkan nilai toleransi, keterbukaan, dan kebersamaan yang menjadi karakter masyarakat Betawi. Karena itu, ia mendorong tradisi ini dikembangkan dalam bentuk festival budaya berkelanjutan.

Tulis Komentar

Komentar