Beranda
Seputar Publik / Berita

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Jabodetabek, Puncak Musim Hujan Bertahan hingga 16 Januari 2026

Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir Berpotensi Picu Banjir serta Longsor, Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
Awan gelap disertai hujan lebat dan kilat menyelimuti wilayah Jabodetabek. BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem masih berlangsung hingga pertengahan Januari 2026. (Foto: Ilustrasi) Awan gelap disertai hujan lebat dan kilat menyelimuti wilayah Jabodetabek. BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem masih berlangsung hingga pertengahan Januari 2026. (Foto: Ilustrasi)

Seputarpublik.com, JAKARTABadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat di wilayah Jabodetabek untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. BMKG menyebutkan, Januari masih menjadi puncak musim hujan dengan peluang hujan lebat hingga sangat lebat yang diperkirakan berlangsung hingga 14–16 Januari 2026.

Peringatan tersebut disampaikan Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdani, pada Selasa (13/1/2026), menyusul meningkatnya kejadian banjir, genangan, serta gangguan aktivitas masyarakat di kawasan perkotaan.

“Bulan Januari merupakan periode puncak musim hujan, khususnya di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, termasuk Jabodetabek,” ujar Andri.

BMKG mencatat, cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi merupakan kombinasi hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, serta kilat dan petir. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi.

Sejumlah kawasan yang perlu diwaspadai meliputi dataran rendah dan permukiman padat dengan sistem drainase terbatas, wilayah sekitar aliran sungai, serta daerah perbukitan dan lereng yang kondisi tanahnya telah jenuh air.

“Wilayah Jakarta hampir merata, termasuk Jakarta Selatan, serta wilayah Depok dan Bogor,” jelas Andri.

Untuk wilayah Jakarta, potensi utama berupa banjir dan genangan yang dapat mengganggu aktivitas serta arus lalu lintas, khususnya pada jam sibuk pagi dan sore hari. Sementara di wilayah Bogor dan sekitarnya, risiko tanah longsor menjadi ancaman yang perlu diantisipasi.

BMKG menjelaskan, kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh sejumlah fenomena atmosfer yang sedang aktif dan saling memperkuat, di antaranya penguatan Monsun Asia, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuator, serta adanya tekanan rendah di selatan Nusa Tenggara Barat di Samudra Hindia yang mendukung pembentukan awan hujan.

BMKG juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan apabila hujan turun terus-menerus selama 3–4 jam tanpa jeda, atau terjadi sejak dini hari, mereda pada siang hari, lalu kembali meningkat pada sore hingga malam. Pola tersebut dinilai berisiko tinggi karena bertepatan dengan jam mobilitas masyarakat.

Tak hanya Jabodetabek, BMKG memastikan potensi cuaca ekstrem juga meluas secara nasional, meliputi seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Sulawesi Selatan.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca resmi BMKG dan menyesuaikan aktivitas harian guna meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem. (*/hel)