Rano mendorong PMI DKI Jakarta menyusun roadmap digitalisasi yang jelas, bertahap, dan terukur. Digitalisasi tersebut mencakup tata kelola organisasi, pelayanan donor darah, penanggulangan bencana, pelayanan kesehatan, hingga pembinaan relawan.
Ia menekankan bahwa integrasi sistem dan data antarunit PMI serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci keberhasilan transformasi organisasi.
> “PMI perlu memiliki roadmap digitalisasi yang mencakup seluruh aspek pelayanan agar transformasi berjalan efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Selain itu, Rano meminta program kerja PMI disusun secara realistis, efisien, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dunia usaha, dan masyarakat luas juga dinilai perlu diperkuat.
Tak kalah penting, ia menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang akuntabel dan transparan. Setiap bentuk dukungan dan pendanaan yang diterima PMI harus dapat dipertanggungjawabkan secara administratif maupun hukum.
Rano juga menyoroti peran vital PMI dalam layanan donor dan distribusi darah di Jakarta yang dinilai tidak tergantikan oleh institusi lain. Ia menyebut kebutuhan darah di ibu kota sangat tinggi, sementara kapasitas pengumpulan harian masih perlu ditingkatkan.
> “Peran PMI dalam layanan darah sangat vital bagi sistem kesehatan. Ini tidak bisa digantikan oleh lembaga lain,” katanya.
Rano berharap Mukerprov PMI DKI Jakarta 2026 mampu menghasilkan keputusan strategis dan inovatif, sekaligus memperkuat sinergi antara PMI dan Pemprov DKI Jakarta dalam menghadirkan pelayanan kemanusiaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Di akhir sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada pengurus dan relawan PMI DKI Jakarta atas dedikasi mereka dalam merespons situasi darurat, bencana, serta kontribusi berkelanjutan dalam penyediaan layanan darah bagi masyarakat. [Hel]*
Komentar