Sementara itu, Ketua Panitia Pindapata Nasional 2026 sekaligus Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Djohan, menyampaikan bahwa esensi utama kegiatan ini adalah menjadikan tradisi kemurahan hati sebagai sarana pengabdian sosial yang memberikan manfaat luas kepada masyarakat.
“Apa yang dipersembahkan umat kepada para Bhikkhu akan kembali didedikasikan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Waisak bukan hanya membawa kebahagiaan bagi umat Buddha, tetapi juga menghadirkan manfaat dan kebahagiaan yang dapat dirasakan bersama,” ungkap Daniel.
Ia juga menilai tingginya antusiasme masyarakat tahun ini menjadi bukti kuat bahwa Jakarta mampu menjadi contoh harmoni dalam keberagaman, di mana umat lintas agama turut hadir, mendukung, bahkan terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, yang turut hadir, menekankan pentingnya nilai memberi sebagai bagian dari penguatan spiritual dan sosial.
“Piṇḍapata adalah latihan untuk memberi. Semakin kita terbiasa berbagi, semakin besar pula keberkahan yang kita rasakan dalam kehidupan. Ini adalah pelajaran penting tentang kemurahan hati dan kepedulian terhadap sesama,” tuturnya.
Sementara itu, Kevin Wu, Dewan Kehormatan Gema Waisak Pindapata Nasional 2026, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara, mulai dari pemerintah daerah, aparat TNI-Polri, tenaga kesehatan, relawan, hingga insan media.
Menurutnya, dukungan lintas sektor tersebut menjadi bukti nyata bahwa kebebasan menjalankan ibadah di Indonesia tidak hanya dijamin secara konstitusional, tetapi juga difasilitasi secara konkret oleh negara.
Dengan ribuan umat yang memadati Kemayoran dan langkah-langkah khidmat para Bhikkhu yang menyusuri jalanan ibu kota, Gema Waisak Piṇḍapata Nasional 2026 menjadi pesan damai yang menyejukkan, sekaligus mempertegas wajah Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan persatuan dalam keberagaman.(Red)*
Komentar