Selain prosesi utama yang dimulai sejak pukul 06.00 WIB, panitia juga menghadirkan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, seperti aksi pelestarian lingkungan melalui pelepasan satwa (fangshen) dan penuangan eco enzyme, serta bakti kesehatan berupa donor darah, pemeriksaan kesehatan umum, hingga layanan Traditional Chinese Medicine (TCM) yang dimulai pukul 09.00 WIB.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPK Kemayoran), serta unsur Forkopimda DKI Jakarta. Kehadiran tokoh lintas agama, pejabat negara, dan berbagai elemen masyarakat menjadi simbol nyata kuatnya toleransi dan harmoni kebangsaan di Indonesia.
Ketua Umum Panitia Gema Waisak Pindapata Nasional 2026, Bhikkhu Dhammakaro Mahathera, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga menjadi representasi nyata kebhinekaan dan akulturasi budaya Indonesia.
“Pindapata ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga simbol kebersamaan dan keberagaman. Hal itu tercermin dari hadirnya berbagai kesenian nasional seperti ondel-ondel, barongsai, serta partisipasi lintas elemen masyarakat yang ikut memeriahkan acara,” ujarnya.
Komentar