Dikatakannya, bahwa era digital saat ini telah menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pesantren dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pendidikan, pengembangan karakter, penguatan spiritual dan membentuk kader ulama dan pemimpin masa depan.
Terkait penguatan Pesantren Ramah Anak di Era Digital ini, KH. Ilyas menyebut ada tiga poin utama dibahas dalam acara ini, yakni :
Pertama, tantangan era digital terhadap pendidikan pesantren.
Kedua, ketergantungan pada teknologi, yang dapat mempengaruhi kesehatan mental, emosional, dan spiritual anak-anak.
Ketiga, kesulitan mengontrol lingkungan belajar, karena era digital membawa kebebasan informasi yang sulit kita bendung.
“Namun, sebagai pesantren, kita tidak bisa hanya mengeluh atas tantangan ini. Justru, kita harus menghadapi dan mengelolanya dengan hikmah serta strategi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kebutuhan zaman,” ujar Ilyas.
Dalam menyikapi tantangan di era digital, prinsip “ramah anak” harus menjadi ruh dalam pengelolaan pesantren. Pesantren ramah anak tidak hanya berarti pesantren yang menjaga fisik anak-anak, tetapi juga pesantren yang dapat memberikan pendidikan berbasis kasih sayang. Santri harus merasa dihargai, didengar, dan dibimbing dengan cara yang baik, sesuai dengan ajaran Rasulullah yang penuh kelembutan terhadap anak-anak.
Komentar