Tidak sedikit pasangan yang mempertahankan NPWP masing-masing setelah menikah. Hal tersebut sah-sah saja, asalkan tahu konsekuensi perpajakannya.
Dalam hukum perpajakan Indonesia, terdapat dua kondisi suami istri dengan NPWP masing-masing, yaitu:
(a). Pisah Harta dan Penghasilan (PH), kondisi apabila dalam perkawinan suami dan istri mengadakan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan secara tertulis, atau
( b ). Memilih Terpisah (MT), yaitu istri menghendaki menjalankan kewajiban perpajakan secara terpisah.
Konsekuensi dari status PH-MT mengakibatkan istri harus melaporkan SPT Tahunan PPh nya secara terpisah dari suami. Dalam penentuan PPh terutang suami istri, akan digunakan rumus proporsional yaitu berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami isteri, kemudian PPh terutang yang ditanggung masing-masing dihitung berdasarkan perbandingan penghasilan neto suami istri terhadap penhasilan neto gabungan dikalikan dengan total PPh terutang gabungan. Biasanya penghitungan dengan cara ini menghasilkan PPh terutang yang lebih besar.
Dengan penerapan sistem coretax saat ini, suami istri akan sangat mudah teridentifikasi oleh sitem Direktorat Jenderal Pajak (DJP), sehingga pengawasan terhadap kepatuhan perpajakan suami istri lebih mudah dilakukan, dan apabila ada kesalahan penerapan perpajakan yang dilakukan oleh suami istri, maka akan langsung terdeteksi. Berbeda dengan sistem sebelumnya yang tidak bisa mengidentifikasi keterkaitan data unit keluarga, sehingga banyak wajib pajak yang belum melakukan pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi dengan skema PH-MT.
Kesimpulan
Menikah bukan berarti otomatis sudah tidak lapor pajak, melainkan ada syarat dan ketentuan yang harus dipahami terlebih dahulu agar tidak salah dalam mengambil langkah perpajakan.
Istri yang cerdas akan memilih skema pelaporan SPT Tahunan dengan tepat karena paham konsekuensi yang akan timbul akibat pilihan tersebut. Dan apapun skema yang dipilih, yang terpenting adalah patuh terhadap kewajiban perpajakan, karena dengan menjadi wajib pajak yang patuh telah turut berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Penulis : Mura Novia Nur Annisaq, ( Penyuluh Pajak Kanwil DJP Jakarta Selatan II ).
Komentar