Ia mengakui keterbatasan anggaran membuat penetapan prioritas tidak dapat dihindari. Namun, menurutnya, keputusan tersebut perlu didasarkan pada kriteria yang objektif dan transparan, antara lain potensi prestasi, kualitas pembinaan, kebutuhan kompetisi, serta peta persaingan internasional.
“Pemerataan kesempatan bukan berarti semua cabang olahraga harus menerima anggaran yang sama. Yang terpenting, setiap cabor memiliki kesempatan yang adil untuk membina atlet, mengikuti kompetisi, menunjukkan potensi, dan mempertanggungjawabkan hasil pembinaannya,” tegas Hafil.
Ia menambahkan, dukungan yang terencana diperlukan agar cabang olahraga yang sedang berkembang memiliki ruang untuk meningkatkan prestasi sekaligus mendorong regenerasi atlet nasional.
Evaluasi Prestasi Harus Melihat Proses Pembinaan
Menurut Hafil, pembinaan atlet merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan waktu, pendanaan, pelatih berkualitas, fasilitas latihan, dukungan ilmu pengetahuan olahraga, dan kompetisi yang berkelanjutan.
Karena itu, evaluasi prestasi olahraga nasional perlu mencakup berbagai indikator, seperti perkembangan atlet potensial, kualitas pelatih, frekuensi kompetisi, regenerasi atlet, partisipasi dalam kejuaraan internasional, efektivitas penggunaan anggaran, serta peningkatan prestasi dari waktu ke waktu.
Program pembinaan juga perlu dilengkapi target yang terukur, kalender kompetisi yang jelas, dan evaluasi berkala agar dukungan yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan.
Hafil menegaskan bahwa prestasi olahraga merupakan tanggung jawab bersama. Atlet yang bertanding di arena membutuhkan dukungan sistem pembinaan yang kuat dari pemerintah, organisasi olahraga, pelatih, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Kalau kita sungguh-sungguh ingin mengharumkan nama bangsa, berikan kesempatan kepada seluruh cabang olahraga untuk membangun prestasi. Jangan hanya menuntut hasil di akhir, tetapi bangunlah jalan menuju prestasi sejak awal,” pungkasnya.
Ia berharap kebijakan olahraga nasional tidak hanya berorientasi pada target medali, tetapi juga memperkuat pembinaan dari daerah, meningkatkan kualitas kompetisi, dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi atlet potensial Indonesia.(Red.)*
Komentar