Seputarpublik.com, JAKARTA -- Di tengah tingginya risiko kerja di sektor perkebunan dan agroindustri, capaian tanpa kecelakaan kerja bukanlah hasil instan. Bagi Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo, zero accident lahir dari konsistensi panjang dalam membangun dan menjaga sistem keselamatan kerja yang benar-benar hidup di lapangan.
Dalam beberapa bulan operasional terakhir, PalmCo kembali mencatatkan 23,3 juta jam kerja aman tanpa kecelakaan fatal. Namun manajemen menegaskan, capaian tersebut bukan tujuan akhir, melainkan indikator dari proses berkelanjutan yang telah dijalani selama bertahun-tahun.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menekankan bahwa mempertahankan zero accident dalam jangka panjang membutuhkan kedisiplinan organisasi dan komitmen menyeluruh, bukan pendekatan program musiman.
> “Keselamatan kerja itu maraton, bukan sprint. Tidak bisa dibangun dengan pendekatan seremonial. Yang menentukan adalah konsistensi menjalankan sistem setiap hari, di setiap unit kerja,” ujar Jatmiko.
Sistem K3 yang Dijaga, Bukan Sekadar Dibentuk
Menurut Jatmiko, kunci utama menjaga zero accident adalah memastikan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berjalan nyata dalam keseharian operasional. Mulai dari perencanaan kerja, analisis risiko, hingga pengawasan di lapangan, seluruh tahapan dirancang saling terhubung dan dijalankan secara disiplin.
Setiap aktivitas kerja wajib melalui identifikasi potensi bahaya serta pengendalian risiko yang terukur. Dengan pendekatan ini, pencegahan dilakukan sebelum insiden terjadi, bukan sekadar respons setelah kejadian.
> “Kalau sistemnya jalan, pekerja terlindungi. Jam kerja aman yang panjang hanya mungkin tercapai jika pencegahan dilakukan secara konsisten,” tegasnya.
Budaya Melapor dan Berani Mengingatkan
PalmCo juga menempatkan pekerja sebagai subjek utama dalam budaya keselamatan. Perusahaan mendorong setiap pekerja untuk aktif melaporkan kondisi tidak aman serta berani saling mengingatkan, tanpa rasa takut terhadap sanksi.
Budaya ini dibangun melalui komunikasi dua arah dan keteladanan pimpinan di lapangan. Keselamatan tidak diposisikan sebagai beban administratif, melainkan sebagai kebutuhan bersama.
> “Zero accident tidak mungkin dicapai kalau hanya manajemen yang bicara. Pekerja harus merasa memiliki sistem keselamatan itu,” ujar Jatmiko.
Investasi Kompetensi dan Kepemimpinan K3
Untuk menjaga konsistensi, PalmCo secara berkelanjutan berinvestasi pada penguatan kompetensi sumber daya manusia. Ratusan pekerja dibekali sertifikasi keselamatan kerja, termasuk Ahli K3 Umum, guna memastikan pengawasan dan pendampingan dilakukan oleh personel yang memahami risiko secara komprehensif.
Pendekatan ini menempatkan K3 sebagai bagian dari kepemimpinan operasional. Setiap pimpinan unit memikul tanggung jawab langsung atas keselamatan timnya.
> “Keselamatan tidak berhenti di rambu atau alat pelindung. Yang menentukan adalah kepemimpinan dan perilaku sehari-hari,” kata Jatmiko.
Evaluasi Tanpa Henti
Momentum Bulan K3 Nasional dimaknai PalmCo sebagai ruang evaluasi berkelanjutan. Setiap periode kerja menjadi bahan pembelajaran untuk menutup celah risiko yang masih ada. Pemanfaatan teknologi, pengawasan berlapis, serta integrasi K3 ke dalam proses bisnis terus diperkuat demi menjaga konsistensi zero accident.
Bagi PalmCo, capaian jam kerja aman bukan sekadar pencitraan korporasi, melainkan wujud tanggung jawab terhadap pekerja dan keberlanjutan usaha.
> “Selama risiko masih ada, pekerjaan keselamatan tidak pernah selesai,” pungkas Jatmiko. [Red]