Lebih lanjut, Tito menyampaikan bahwa pemulihan pascabencana di Sumatera Barat dan Sumatera Utara ditargetkan selesai sebelum Ramadan. Langkah percepatan dilakukan melalui pembersihan kawasan terdampak serta pengurangan jumlah pengungsi dengan pemberian bantuan bagi rumah rusak ringan dan sedang, agar warga dapat segera kembali ke rumah masing-masing.
Sementara itu, warga dengan rumah kategori rusak berat diarahkan untuk menempati hunian sementara (huntara). Sebagian masyarakat juga telah menerima Dana Tunggu Hunian (DTH) sehingga dapat tinggal sementara di rumah kerabat atau menyewa tempat tinggal hingga proses pemulihan selesai.
> “Kami harapkan dukungan Menteri Sosial, baik dari anggaran bencana maupun nonbencana seperti PKH, bantuan ekonomi rumah tangga, hingga peralatan perabotan. Kalau ini dibantu, proses pemulihan akan jauh lebih cepat,” ujar Tito.
Untuk wilayah Aceh, Tito menilai tantangan pemulihan lebih berat karena masih banyak permukiman warga yang tertimbun lumpur. Oleh karena itu, fokus utama diarahkan pada pembersihan lumpur serta normalisasi muara sungai.
> “Kunci utamanya pembersihan lumpur. Kalau lumpur dibersihkan dan sungai dikerok, penanganan akan jauh lebih mudah. Kalau ada tambahan pasukan TNI-Polri dan sekolah kedinasan, sekitar 15 ribu personel, saya yakin dua minggu bisa selesai,” tegasnya.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, serta Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar.
Hadir pula Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, serta Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, dan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah. [Red]
Puspen Kemendagri
Komentar