Semangat awal ini, tentu dapat dimulai dengan membuka ruang seminar nasional oleh instansi terkait, dengan melibatkan Akademisi, pakar dan pecinta sejarah, pemerintah daerah dan juga tokoh agama, hingga ke level nasional.
Tak hanya itu, kepanitian yang serius juga mesti direkonstruksi kembali sebagai langkah awal dan strategis dalam membangun kembali MONISA dan jejak kerajaan Islam yang ada di Peureulak, Aceh Timur.
Wacana ini bukan mustahil dilakukan, jika kita ingin serius mewujudkan kembali apa yang pernah digagas oleh pendahulu kita untuk merekontruksi MONISA. Bisa jadi sebagian kaum yang pesimis menganggap itu semua hanya mimpi. Namun, tidak sedikit yang berharap pula agar mimpi itu menjadi nyata, bahkan menaruh asa agar pusat kerajaan Islam di Asia Tenggara ini dapat terwujud di suatu masa.
Dengan potensi yang ada ini, bila serius digarap, suatu saat Aceh Timur akan menjadi wilayah yang penting sebagai pusat penelitian, pendidikan perguruan tinggi Islam, serta dapat dibangunnya berbagai sarana dan prasarana pendukung lainnya yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Mengejar mimpi itu, bagi sebagian kaum pesimis memang terasa mustahil, bahkan sebagian dari mereka ogah untuk mencoba demi perubahan, akhirnya pembangunan ke arah ini jalan di tempat. Jangankan impian besar untuk mewujudkan pembangunan Monisa, cagar budaya yang telah ada di depan mata pun seakan luput dari perhatian.
Refleksi 40 tahun tahun silam, sejak Ali Hasjmy Cs mulai ingin mewujudkan MONISA ini, semestinya dapat menjadi spirit oleh para pemangku jabatan, sehingga terbangun kembali ruh dan semangat yang telah lama mati suri, karena memugar sejarah bukanlah hanya sebatas seni bernostalgia, tapi sejarah adalah pelajaran yang bisa kita tarik ke masa sekarang, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik demikian ungkap Mahyuddin SPd MAP yang juga salah satu tokoh Pemuda dan Pemerhati Sejarah di Aceh Timur.
(HSA)
Komentar