Bahkan, sampai saat ini wacana Monumen nasional islam Asia Tenggara (MONISA) yang sebelumnya digadang-gadangkan akan dibangun belum juga terwujud sampai saat ini.
Lokasi yang rencananya akan dijadikan sebagai bukti peradaban Islam dan pusat penelitian sejarah, masih tampak sejumlah bangunannya dalam kondisi memperihatinkan sebagai tempat yang paling bersejarah dan megah.
Sebelumnya, Wacana pendirian MONISA di lokasi situs Kerajaan Peureulak ini dianggap penting sebagai tempat pertama kalinya ajaran Islam berkembang hingga ke pelosok tanah Indonesia, bahkan Asia Tenggara.
Bahkan, dari sejumlah referensi yang ditemui penulis pembangunan MONISA sempat dibahas pada pertemuan penting oleh tokoh-tokoh dari Aceh di Rantau Kuala Simpang (Aceh Tamiang).
Acara itupun berlangsung sejak 26 hingga 30 September 1980. Seminar internasional ini menghadirkan para pemateri seperti, Prof Buya Hamka, Prof Ali Hasjmy, Prof Madya dan juga Dr Wan Hussein Azmi dari Malaysia. Bahkan turut hadir juga Prof Dr Arum Komar Das Gupsta dari India, serta sejumlah pembanding lainnya.
Saat ini, selama 40 tahun telah berlalu dari pertemuan bersejarah yang dimotori oleh Ali Hasjmy itu, kondisi komplek makam para raja di Peureulak masih tampak biasa – biasa saja.
Bahkan, bangunan berbentuk bilik Dayah (pesantren), dan balai di komplek makam Sultan Alaiddin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (Sultan Abdul Aziz Syah) Peureulak, terancam roboh.
Komentar