“Setiap unit karbon yang dibeli memiliki underlying project yang jelas. Masyarakat dapat mengetahui langsung sumber pengurangan emisinya, sehingga kepercayaan terhadap mekanisme ini terus tumbuh,” jelasnya.
Secara teknis, volume serapan emisi sebesar 5.202 tonCO₂e tersebut setara dengan penanaman dan pemeliharaan sekitar 86.000 bibit pohon selama 10 tahun, atau ekuivalen dengan pengurangan emisi dari sekitar 1.130 mobil penumpang dalam satu tahun.
Sejumlah partisipan ritel juga mengaku mulai melihat offset karbon sebagai bagian dari tanggung jawab pribadi terhadap lingkungan. Salah satunya, M. Ansori Nasution, yang menilai akses pembelian yang terhubung langsung dengan proyek energi terbarukan memberikan keyakinan atas dampak nyata yang dihasilkan.
“Sebagai individu, ada kesadaran untuk ikut menyeimbangkan jejak karbon. Yang terpenting, proyeknya jelas dan benar-benar menghasilkan pengurangan emisi,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Devanda Faiqh Albyn, yang menilai generasi muda kini semakin melihat perdagangan karbon sebagai bentuk investasi lingkungan jangka panjang.
Pemerintah sendiri menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2050. Dalam konteks tersebut, keterlibatan sektor perkebunan melalui inovasi energi terbarukan seperti yang dilakukan PalmCo diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.(Adv)*
Komentar